Featured

Ngemsi

Sejak ngantor di daerah, saya sering ditugasi jadi MC acara kantor. Entah itu pelatihan atau sosialisasi. Sebelumnya saya gak nyangka saya bisa di situ. Seinget saya, saya cuma sekali jadi MC di acara baksos angkatan jaman kuliah. Selain itu saya gak pernah jadi MC lagi. Pas latsar CPNS kemarin, saya jadi MC di upacara sipil. Sama aja kayak pembaca susunan acara di upacara jaman sekolah tiap hari Senin.

Ternyata ENAK.

Asli saya suka banget ngomong di mikrofon.

Saya jadi inget drama Korea Fight for My Way yang saya tonton beberapa waktu lalu. Tokoh utama wanitanya, Choi Ae Ra, yang diperankan oleh Kim Ji Won, juga punya hobi ngomong di depan mikrofon. Dia tahu bakatnya di situ. Dia seneng di situ. Makanya dia berusaha banget dapet kerjaan yang memberinya kesempatan untuk berbicara. Ae Ra ngelamar kerja di mana-mana seperti penyiar di berita TV, announcer di department store, sampe wartawan di pertandingan olahraga. Keren banget perjuangannya.

Saya yang baru sadar kalo seneng ngomong di depan, sejauh ini sih memutuskan untuk menjadikannya sebagai hobi. Pas kecil tuh saya pemalu banget. Jadi MC di acara ulang tahun anak tetangga aja saya nolak, padahal waktu itu saya SMP, dan tamunya anak kecil semua. Seru juga kali ya kalo saya dibayar untuk ngomong di depan orang banyak. Eh tapi ga dibayar juga ga papa sih, wong saya seneng ini.

Featured

Selepas Kau Pergi

Ada lelaki yang kukenal. Begitu sulit ia jatuh cinta. Padahal umurnya sudah lanjut. Kata kami, sudah waktunya ia menikah. Sudah terlalu matang. Namun ia belum jua terlihat menjatuhkan hati pada satu wanita, selepas sang kekasih pergi.

Kekasihnya? Bolehkah kusebut begitu?

Kekasihnya adalah wanita single satu-satunya yang mengisi dunia kami saat itu. Mungkin rasa itu sudah ada di hati sang Lelaki sejak pertama mereka bertemu. Namun ia tak juga mengungkap rasa, hingga tibalah berita itu. Sang Kekasih mengumumkan pada semuanya, bahwa ia akan menikah.

Ya, wanita itu kekasih sepihak di hati sang Lelaki. Baginya sang Kekasih adalah wanita satu-satunya. Cinta tak berbalas tetaplah cinta. Siapa tahu dalamnya hati seseorang?

Aku mencoba berempati pada Lelaki ini. Aku mencoba turut merasakan kesedihannya. Seandainya aku jadi dia, yang ditinggal menikah oleh pujaanku, sepedih apa rasanya. Aku pernah bertanya padanya, pernahkah ia menjalin cinta? Tak pernah, jawabnya. Ia dekat dengan semua orang, tapi kalau menyukai seseorang, ya satu saja.

Akhirnya, wanita itu pergi menuju suaminya, keluarganya. Sesuatu yang memang sudah lama ia impikan, dekat dengan keluarga dan suami. Menurutku, ia telah melakukan hal yang tepat. Namun hidup ini dinamis, tak semua orang senang dengan keputusan kita. Aku melihat saat-saat sang Lelaki begitu mendung, di hari-hari terakhir sebelum sang Kekasih pergi. Begitu juga saat kulihat potretnya tatkala mengantar sang Kekasih di bandara. Astaga, wajah itu, pedih sekali 😦

Aku sebagai pengamat dalam kisah ini, juga turut merasa miris. Cerita ini klasik, sama saja dengan kisah cinta yang sudah pernah kau dengar di mana-mana. Aku iba pada sang Lelaki, namun turut berbahagia untuk wanita itu. Ya beginilah hidup. Tak selamanya manis.

Apakah sang wanita tahu perasaan sang Lelaki ?

Ia menyadarinya. Ia tahu. Tingkahmu akan beda pada orang yang kau cinta. Namun ia mengabaikannya, memilih setia pada pernikahannya.

Hari terus berganti. Sekian bulan berlalu. Hingga kini, di setiap pertemuan-pertemuan kami, sang Lelaki masih menyebut-nyebut wanitanya. Aku tahu, masih ada cinta di hatinya. Namun, ia bisa apa. Tak ada yang dapat ia lakukan selain berusaha memendamnya dalam hati dan melanjutkan hidup.

Begitulah kawan, hidup harus terus berjalan.

Featured

Sekarang untuk Nanti

Saya lagi di fase dewasa muda, baru lulus tahun lalu dan mulai kerja. Saya baru memasuki dunia dewasa yang penuh tanggung jawab, komitmen, kedisiplinan, dan segala printilan yang njelimet itu. Kadang capek sih, ada jenuhnya juga, karena kegiatan utama ya ngantor, pulang, ngantor, pulang. Saya salut sama temen saya yang menyempatkan diri untuk ngajar ngaji setelah pulang kantor. Atau sama temen saya yang masih aktif jualan online meski mantaunya dari jauh. Atau temen saya yang tetep rutin olahraga beberapa kali seminggu. Atau sama temen saya yang masih rutin ngisi blognya. Tapi asli, saya sayang banget sama blog ini. Menyempatkan waktu untuk sesuatu yang kita sayang itu adalah bukti cinta, yang sayangnya masih sulit saya lakukan.

Banyak hal yang mau saya ceritakan. Saya merasa banyak sekali momen spesial yang terjadi selama saya bekerja di tempat yang baru. Jadi di kantor kami ada beberapa anak pegawai yang selalu dibawa orang tuanya ke kantor usai pulang sekolah. Dan setiap mereka ulang tahun, pasti selalu dirayakan di kantor. Kebetulan anaknya perempuan semua. Jadi kami, para pegawai yang masih sangat muda-muda ini, selalu patungan buat beli kue ulang tahun warna pink atau ungu, yang dihiasi dengan karakter princess Disney. Terus beli kado serba pink. Hihi, menyenangkan hati orang lain itu seru sekali.

Terus, saat kami ngumpul bareng untuk makan ayam geprek atau nasi goreng atau bakso. Gak ada yang kami lakukan, cuma makan dan cerita-cerita saja. Atau waktu ngumpul bareng di teras rumah, ngeliatin langit yang selalu berbintang saking gak ada polusi, terus ngobrol. Atau waktu main bareng di kilo 14, atau ke Sisir yang jalannya jelek banget itu, atau waktu ke Triton dan naik tangga seribu. Atau waktu saya turun pemetaan selama 12 hari di kampung, nyebrang laut, gak ada sinyal, gak ada listrik. Bener-bener berasa kembali ke alam. Saya lumayan senang, di usia muda saya sudah punya pengalaman itu. Dan saya ingin menuliskannya di sini, supaya nanti bisa saya baca dan saya kenang di masa depan.

So, what’s next?

Habis ini mau ngapain?

Saya ingin lebih serius dalam hidup, merencanakan yang saya mau, dan menggapainya. Saya ingin hidup yang hebat, dengan cara yang sederhana. Semoga ini bukan sekadar kata-kata.

Featured

An Happy Marriage

Sekali dua saya berpikir tentang pernikahan, hal yang dilakukan oleh sebagian besar manusia di Bumi. Orang-orang menikah, membentuk “keluarga baru”, dimulai dari dua orang, lalu menjadi tiga, empat, atau lima. Manis sekali. Saya juga ingin. Tapi saya tahu, belum waktunya.

Pernikahan itu sesuatu yang besar untuk saya. Yang perlu dipersiapkan bukan sehari dua hari. Saya memandang pernikahan itu sebagai salah satu jalan agar saya “genap” sebagai manusia. Menjadi istri, punya suami, orang yang akan saya cintai dan hormati. Menjadi ibu, melahirkan manusia-manusia baru, dan membesarkannya dengan penuh kasih. Punya keluarga baru, yang harus turut saya jaga dan saya perhatikan. Punya tanggung jawab baru, yang saya yakin tak ringan. Tapi dibalik semua itu, Allah janjikan pahala yang bisa dipetik setiap waktu. Saya ingin menikah, tapi belum siap dengan pernikahan.

Saya cuma wanita sederhana, yang salah satu cita-citanya, ingin memiliki pernikahan yang bahagia, sampai surga.

Featured

Tentang Kaimana (2) : Arti Penempatan Buat Saya

Malam ini rasanya saya cukup melankolis. Entah karena bentar lagi mau mudik lebaran atau gimana, saya merasa banyak sekali hal yang saya rindukan. Tadi saya nelpon rumah dan bilang sama orang tua, saya kangen makan nasi padang di warung padang dekat rumah. Alasannya simpel, semua warung padang yang biasa saya kunjungi di Kaimana pada tutup, penjualnya mungkin mudik ke kampung halaman sejak awal Ramadhan. Jadilah sudah hampir 20an hari saya gak makan nasi padang. Saya juga bilang kalo saya kangen masak opor ayam, dengan kentang dan telur rebus plus sambal terasi. Saya pengen masak di dapur rumah saya, soalnya di Kaimana saya jarang masak. Saya juga kangen makan jeruk pasar yang manis itu. Intinya, saya kangen makanan yang biasa saya makan di Sorong, di rumah saya.

Tiga orang kawan kantor saya sudah mudik. Saya agak sedih karena suasananya jadi sepi. Apalagi kami juga bertetangga di rumah dinas. Sebulan terakhir hidup kami agak berbeda. Mungkin karena sibuk pemetaan, kami jadi jarang ketemu, karena harus ke kampung, ke daerah Kaimana yang lumayan jauh dari daerah kota. Saya bilang jauh karena kudu nyebrang laut pake longboat dengan durasi beberapa jam di atas laut. Kami jadi jarang main bareng, jarang makan sama-sama, apalagi masak bareng.

Saya baru sadar, teman-teman kantorlah yang membuat hidup saya di Kaimana jadi ceria. Mereka mengisi hari-hari saya jadi sangat berwarna. Saya seneng, punya teman setelah masa kuliah. Kami bisa temenan dengan murni temenan. Seru abis. Kalo jaman kuliah temenan sama cowok itu ada resiko baper, dan agak kurang leluasa gitu, di Kaimana saya bisa dapet temen-temen cowok yang emang teman. Buat bertukar pikiran, buat dimintai pendapat, dan asli gak ada sama sekali perasaan baper di hati. Enaknya temenan pas dewasa adalah karena kita jadi lebih waras aja. Hidup tak melulu berorientasi pada jodoh dan pernikahan. Banyak hal yang ingin kita gapai di masa depan. Gimana kita ngerencanain hal-hal terbaik untuk hidup kita, misalnya temen saya yang pengen resign dari kantor setelah punya bisnis sendiri, atau teman saya yang pengen pindah ke Jawa karena pengen deket sama orang tua, atau temen saya yang pengen nikah sebentar lagi sama pujaan hatinya, atau temen saya yang pernah saya katain ga pernah prepare soal hidupnya ternyata dia punya investasi, dan banyak cerita lainnya. Keren abis sih ini. Terakhir saya punya temen cowok yang emang temen itu pas SMA. Sekarang doi udah nikah gaes wkwkkwkw

Penempatan bikin saya ngerasa “get a life” banget !

Saya gak ngebayangin sih misalnya saya ditempatkan di Jakarta yang super sibuk itu. Tiap hari saya kudu berangkat jam 6 pagi dan pulang menjelang maghrib. Akan sedatar apa hidup saya, betapa membosankannya. Makanya sejak awal kuliah, cita-cita saya adalah gak ditempatkan di Jakarta. Buat saya, Jakarta kurang nyaman untuk hidup, karena udah kebanyakan manusia di sana. Kalau saya ditempatkan di daerah, yang bukan di rumah saya, saya bisa belajar banyak hal dan pengalaman baru. Penempatan itu asyik kok, nikmati saja 😀

Oke, segitu dulu. Doain mudik saya minggu depan lancar, dan semua cita-cita saya soal makanan tewujud. Sampai ketemu di postingan selanjutnya.

Featured

Tentang Kaimana (1)

Hampir dua bulan, saya bekerja di Kabupaten Kaimana. Buat yang belum tau itu di mana, biar saya ceritakan. Kaimana adalah sebuah kabupaten di provinsi Papua Barat. Kenapa saya akhirnya bisa kerja di sini? Ceritanya panjang. Takdir Allah mengatakan saya harus ke sini dulu, sebelum pergi berpetualang ke tempat berikutnya. Kaimana kota yang cantik. Kota senja, katanya. Kota kami memanjang mengikuti garis pantai. Di sini ada pulau-pulau kecil di sekeliling kota, yang juga ditempati oleh penduduk. Kota ini lumayan nyaman untuk hidup. Cuma jauh aja ehehe

Kantor saya ternyata dipenuhi oleh orang-orang yang muda. Setengah warga kantor berusia di bawah 25 tahun. Mantep gak tuh. Saya seneng, jadi banyak temennya di sini. Rame. Kami menempati komplek rumah dinas. Di rumah jadi tetangga, di kantor jadi rekan kerja. Makan bareng sering banget. Masak bareng, jarang wkwk. Bosen gak sih ketemu orang yang itu mulu, dan lingkungannya itu melulu ? Sebenarnya enggak juga sih, biasa aja. Saya seneng malah baru dateng langsung dapet teman-teman yang seru.

(To be continued)

Featured

Cinta Sampai Akhir Masa

Bagaimana bisa, cinta yang dulu kalian banggakan, bisa pudar seiring waktu?

Tak ingatkah kalian bagaimana dulu kalian memperjuangkan cinta itu?

Bagaimana bisa berkurang seiring waktu?

Aku belum pernah menjalaninya. Tapi yang kutau, cinta itu harus dipupuk, dijaga agar awet. Teorinya sih begitu. Prakteknya? Ya lakukan saja. Dijaga agar bahagia sampai tua.

Aku sayang kalian. Bahagia terus ya 🙂

Featured

Hari Pernikahan

Setelah melewati proses yang lumayan panjang, sempat menyerah, lalu bangkit lagi, akhirnya surat itu tiba. Kabar yang menjawab rasa penasaranku, tentang akhir kisahmu.

Dia yang begitu kau puja, kau sayang, sempat kau kecewakan sebegitu dalamnya. Lalu dia pergi. Dan kalian tak bertemu lagi. Tapi jika kata Allah kalian jodoh, kau bisa apa ? Ada saja jalanNya untuk menyatukan kalian.

Mungkin benar kata orang, sebelum bertemu cinta sejatimu, kau akan bertemu orang-orang yang salah dulu. Kau akan kecewa dulu, karena gagal bersatu. Kau akan menangis, bingung kenapa seperti ini kisahnya. Dan setiap orang, memiliki cerita cinta yang berbeda.

Lalu kau sadar, dia masih sendiri. Dan kau berjuang lagi. Hatimu berkata, dia yang terbaik.

Selamat berbahagia, teman kecil. Selamat telah menemukan orang yang menurutmu akan jadi satu-satunya, tempat berbagi bahagia, duka, dan perjuangan. Selamat berbahagia, telah berjumpa dengan orang yang akan menjadi teman hidupmu, untuk bertumbuh baik bersama, untuk menua bersama.

Selamat berbahagia, dari aku, saksi perjalanan cinta kalian yang penuh liku. Aku percaya, semua hal akan terjadi di waktu yang tepat, dan semua alasan akan terjelaskan di waktu yang tepat, menurut Allah. Tugas kita hanya berusaha.

Selamat ! Semoga Allah melimpahkan barokahnya pada pernikahan kalian. Aamiin.

Featured

To the brightest one (2)

kepada yang paling terang
yang datang di kala siang
Halo 🙂
lama tak berjumpa
semoga kau sehat bahagia
hadirmu hangatkan hatiku
dan ceriakan aku
sampai malam menjelang
lalu ku tidur dengan tenang
kemarin kau ada di sisiku
berjalan di sampingku
bersamaku
lalu kita berbincang panjang
ramai bersama kawan

kepada yang paling terang
mengapa rasanya sesak
saat ku ingat akan pergi
dan waktu yang tersisa tinggal sedikit
mengapa baru berharga
saat akan terlepas
dari hari-hari
dan masa bukan milik kita lagi

kepada yang paling terang
terima kasih, sudah benderang.
Featured

Cowok Kok Males ?

Kadang saya bingung, kenapa cowok itu kudu disuruh-suruh dulu supaya mereka bisa tergerak untuk melakukan sesuatu. Buat para wanita yang baca ini, bener gak sih anggapan saya barusan? Contoh terdekat, adek saya. Kalo saya gak bilangin dia kudu ngapain gitu, gak dilakuin sama dia dengan kesadaran sendiri. Ini berlaku terutama soal urusan rumah sih kayak beli galon, nyuci piring, nyuci baju, bahkan rapiin kamarnya sendiri. Kadang kalo saya udah capek pulang dari kantor, terus udah males ngomelin, saya biarin aja. Eh, sampe besok gak dikerjain juga. Duh, lelah hayati. Teman cowok sekantor saya juga gitu. Urusan ganti galon yang kosong aja magernya setengah mati. Ampunilah.

Apa cowok itu emang dasarnya males ya?

Saya mencoba berpikir apa yang menyebabkan cowok-cowok di sekitar saya karakternya kayak gitu. Mungkinkah karena budaya mendidik anak di Indonesia yang tidak membiasakan anak laki-laki mengerjakan pekerjaan rumah? Hmm, bisa jadi itu salah satunya. Apalagi kalau di rumah itu memiliki anak perempuan, yaudah, bebas merdekalah anak laki-laki. Pekerjaan rumah sebagian besar dilakukan oleh para perempuan dalam keluarga, terutama ibu dan anak perempuannya. Anak laki ngapain? Gatau deh.

Mungkin hal berbeda terjadi dalam keluarga yang gak punya anak perempuan di dalamnya, atau misalnya anak lelaki itu adalah anak pertama. Dua orang bu guru saya semasa SMA, masing-masing punya tiga orang anak laki-laki. Dengan kebawelan khas emak-emak, beliau berdua menceritakan di kelas kami kalau di rumah, ketiga anak lelakinya dididik untuk membantunya mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Waktu saya SMA, saya bengong aja saat beliau bilang gitu. Saya gak mikir apa-apa. Tapi setelah saya agak dewasa, saya ngerti kenapa beliau mendidik demikian. Gempor bok ! Capek ngerjain urusan rumah sendiri. Apalagi beliau adalah wanita pekerja dan gak punya asisten rumah tangga.

Mendidik anak emang gak ada standar patokannya. Gak diajarin di sekolah gimana caranya, meski sekarang sudah menjamur ilmu-ilmu parenting di berbagai media. Jadi orang tua emang gak mudah, karena anak itu ngerekam dan mencontoh semua yang dilakukan orang tua. Dan hasil didikan sejak dalam kandungan itu, bakal kebawa sampai dewasa.

Ampun deh bahasa gue, kayak udah ngerti aja. Padahal, nikah juga belom ! Tapi di masa depan, misalnya saya nikah dan punya anak laki, saya akan membiasakan dia untuk mandiri dan ikut mengerjakan urusan rumah, sebagaimana anak perempuan saya. Ya ampun bok, futuristik banget ga sih, hohoho.

Oke. Sejauh ini sih, baru itu penyebab para cowok menjadi “males” menurut saya. Saya udah mikir, dan belum nemu alasan lain. Buat yang baca ini dan mau berpendapat, sila meninggalkan komentar. Ehehe

Ngomong-ngomong ya, cowok yang peka, perhatian dan baik hati itu idaman banget ga sih. Makanya dalam sejarah diceritakan kalo Rosulullah itu suka membantu istrinya mengerjakan urusan rumah tangga. Menurut saya nih, yang bener emang urusan rumah itu ditangani berdua. Ye gak? Kan tinggalnya berdua, masak istri doang yang repot.

Segitu dulu sesi ngomel-ngomel kali ini. Sampai ketemu di postingan berikutnya 🙂

Featured

Suemi

Ini cerita tentang seorang perempuan. Namanya memang cuma beda satu huruf dengan peran yang biasanya dijalankan laki-laki, tapi itulah istimewanya. Ia anak pertama dalam keluarga, menjadikannya tempat berkeluh kesah dan bercerita oleh adik-adiknya. Semua masalah dalam keluarga ia tau, karena ia sering diajak cerita oleh ibunya, atau ayahnya, untuk dimintai pendapat. Aku mengenalnya sepanjang umurku, meski ia jauh lebih tua dari ibuku. Kupanggil ia, Bude Mi.

Bude Mi adalah kakak sulung ibuku. Usianya sudah kepala enam. Punya satu anak laki-laki, yang umurnya hampir mencapai kepala empat. Ia pernah bekerja menjadi staf tata usaha di sebuah sekolah menengah. Namun, beberapa tahun lalu ia berhenti. Bukan maunya, bukan keinginannya. Mengapa pula wanita di umur itu harus berhenti bekerja? Tidak ada anak-anak yang harus diurus dan hal-hal yang membuatnya harus berdiam di rumah. Keputusan keluarga besarlah penyebabnya. Setelah musyawarah panjang, Bude Mi akhirnya berhenti dari pekerjaannya, karena satu tujuan mulia. Merawat kakekku, ayahnya, ayah ibuku.

Kakekku sudah tua. Lebih dari 80 tahun umurnya. Kini beliau hanya mampu berbaring di ranjang. Bude Mi yang merawatnya, memandikan, memakaikan baju, menyelimuti, menyuapi, memberi minum, mengajak ngobrol, memijat, setiap hari. Hal itu dilakukan sambil mengerjakan pekerjaan rumah.

Rumah itu, kadang sepi, kadang ramai. Ramai akan terasa jika adik-adik Bude Mi, datang berkunjung bersama anak-anaknya. Aku salah satu anak itu. Semasa kuliah, setahun sekali, saat libur semester, aku ke Jawa Timur untuk menengok kakekku. Saat itulah aku bertemu Bude Mi. Lalu Bude akan bercerita banyak padaku. Tentang keluarga kami, tetangga, masa lalu, kondisi terkini kakek, dan perasaannya selama ini. Saat itulah aku merasa begitu dekat dengannya, karena bisa cerita, dari hati ke hati.

Di mataku, ia wanita yang baik. Ya sebagai anak, sebagai ibu, sebagai bibi untuk kami keponakannya. Ia baik. Selama di rumah itu, alhamdulillah aku tak pernah kekurangan makan. Makanan selalu ada, dari makan berat, buah, sampai camilan. Rumah juga selalu rapi, dan dalam kondisi bersih. Kakek juga terawat dengan baik. Kamar kakek tidak pernah bau. Di kamar itu malah tersedia parfum untuk kakek.

Bude Mi juga selalu baik pada semua keponakannya. Seperti kebanyakan ibu-ibu, Bude Mi memang cerewet. Tapi itu dilakukan karena ia sayang pada kami. Bagiku, Bude Mi seperti tak kenal lelah. Ia juga jarang mengeluh. Meski aku tau, tak mudah menjalani perannya.

Aku menghormatinya, karena baktinya pada orang tua. Aku menyayanginya, karena semua kebaikannya.

Minggu lalu aku baru pulang dari mengunjungi kakek. Ini kedua kalinya aku ke sana dalam jangka hampir lima bulan aku bekerja. Aku tak lagi diberi sangu, seperti dulu saat aku masih sekolah. Di kereta yang membawaku kembali ke Jakarta, aku sadar. Bude Mi sangat baik. Orang baik akan terasa pancaran jiwanya. Kita semua bisa merasa, dengan hati kita masing-masing.

Entah kapan lagi aku bisa menemuinya. Semoga Bude terus sehat. Kata Bude Mi, ia jarang sakit. Menurutnya, itu manfaat merawat kakek.

Sampai ketemu lagi, Bude ❤

Featured

Ekspektasi vs Realita Akhi-Akhi

Manusia belajar sesuai pola. Kayak machine learning, yang diterangkan dosen di kelas Data Mining, kita berpikir berdasarkan pengalaman dan proses belajar dari lingkungan. Dosen Psikologi saya juga pernah cerita tentang stereotip, tentang persepsi seseorang terhadap anggota kelompok tertentu. Stereotip ini juga dipelajari dari lingkungan.

Akibatnya, kita kayak punya label gitu loh, terutama terhadap manusia lain. Kita jadi berpikir sesuai anggapan umum yang ada di masyarakat. Nah, bahayanya nih, kita jadi lupa, bahwa manusia itu unik, dan kadang gak selamanya ‘seperti yang kita pikirkan’.

Kemaren, saya sempet sebel, sama orang. Tapi saya tau, dia itu, kayaknya akhi-akhi. Kayaknya sih. Soalnya saya tau dia satu pengajian sama saya. Saya mikir, karena dia itu akhi-akhi harusnya dia bersikap kayak stereotip akhi-akhi, yaitu lebih ngejaga pergaulan sama cewek.

Eh, dia malah PDKT sama beberapa cewek sekaligus dong.

Emvhret!

Saya sebel. Saya kesel.

Saya mengutuk dalam hati. Kata saya, “Eh, Mas, situ ikhwan apa tekwan? Apa malah bakwan?”

Masalahnya bok, cewek-cewek yang dia deketin itu temen-temen saya juga. Mereka curhatnya, ya ke saya juga. PDKT ini terutama dilakukan lewat chat. Gimana ya? Saya kesel karena dia ikhwan tapi boong.

Balik ke stereotip, saya kayaknya kemakan stereotip sendiri soal ikhwan. Saya terlalu berhusnudzon kalo dia baik, sampai saya lupa kalau dia manusia juga. Dan dia cowok, yang menurut teori manusia purba, cowok emang kerjanya berburu.

Tapi jangan berburu cewek juga kali.

Kudunya kan dia tau, cara mencari pasangan hidup sesuai syariat. Jangan langsung berbanyak alias nyabang gitu dong.

Ih, akuh emosi.

*tarik napas*

Oke, oknum ikhwan yang begini emang jarang ya gaes. Maksudnya, palingan cuma satu dua tiga oranglah, yang nakal kayak gini. Semoga aja deh gak nularin ikhwan yang lain. Semoga aja, ikhwan yang udah ngaji, selalu istiqomah menjalani syariat Islam dalam hidupnya.

Buat para ikhwan di luar sana, jangan sok jadi playboy ngemodusin banyak cewek ya. Takutlah pada Allah, ya Akhi. Semua perbuatan ada balasannya.

Buat cewek yang baca ini, jangan mudah kemakan gombalan ikhwan empret kayak gitu. Jadilah wanita yang tegas. Jangan gampang kepedean. Ingat, cowok baik, apalagi ikhwan yang baik, hanya akan romantis dengan pasangan sahnya.

Segitu dulu sesi marah-marah kali ini. Sampai ketemu di postingan selanjutnya 🙂

Featured

Curhat Wanita Pekerja :D

Beberapa bulan terakhir, saya mulai ngantor. Pergi pagi-pagi betul, pulangnya udah mau maghrib. Bahkan kalo ada rapat di luar jam kantor, jam setengah sembilan saya baru nyampe rumah. Jujur, saya capek dengan rutinitas itu. Mungkin tepatnya, saya kaget dan masih selalu berusaha menyesuaikan diri setiap harinya.

Kerjaan rumah tangga, jadi agak sedikit berantakan. Saya berharap punya lebih banyak waktu untuk memasak, tapi kebanyakan, rasa lelah sepulang kerja sudah menyergap tubuh saya. Ketika masih kuliah, saya terbiasa mencuci seminggu sekali, tapi jika hal itu saya lakukan sekarang, pakaian yang harus saya cuci akan sangat banyak. Mungkin hanya menyapu dan mencuci piring yang setiap hari rutin saya kerjakan.

Adik saya juga sibuk kuliah setiap hari. Kami hanya punya sedikit waktu untuk berbincang di kala pagi, sebelum saya berangkat ke kantor. Di malam hari, kami sering makan malam berdua, lalu ia akan sibuk untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Makanya saya sering mengajaknya hang out di akhir pekan. Justru saat sedang di luar rumah, entah makan di manalah, kami sering ngobrol dari hati ke hati. Tentang apa saja. Perkara debat capres lah, atau soal kuliahnya, atau soal saya yang akan segera berangkat tugas ke daerah tidak lama lagi.

Kadang, karena lelah, saya tidak sengaja memarahi adik saya. Lelah membuat emosi tidak stabil, dan dengan kerjaan rumah yang masih menumpuk, emosi saya naik. Sungguh, saya sering menyesal usai memarahinya. Saya kesal kenapa adik tidak peka, untuk membantu urusan rumah. Saya kesal sama diri sendiri, karena tidak mampu menjalani peran dengan baik, sebagai pekerja kantoran, dan sebagai kakak untuk adik saya.

Apakah saya gak berniat laundri pakaian? Ya, itu saya lakukan beberapa kali. Tapi rasanya sayang uangnya. Solusinya, nyucinya dicicil, sedikit-sedikit. Kalau urusan makan, warteg selalu menjadi sahabat terbaik. Makanan enak, dan harga bersahabat.

Begitulah.

Saya berpikir, tentang wanita-wanita tangguh di luar sana, yang bekerja seperti saya, bahkan yang sudah menikah dan memiliki anak. Sepertinya, menjadi istri, dan ibu, bukan sesuatu yang mudah. Begitu banyak tanggung jawab yang ada di pundak mereka. Saya berpikir, apakah para ibu itu memiliki waktu untuk dirinya sendiri? Karena bagi anaknya, ibu adalah semestanya.

Sekarang saya mengerti bagaimana lelahnya ibu saya sepulang kerja. Saya juga paham kenapa kadang ibu saya marah tanpa alasan. Ibu saya lelah. Itu sebabnya. Kadang, ketidakpahaman hanya dapat diselesaikan dengan kedewasaan.

Untuk wanita pekerja di luar sana, bersemangatlah. Tetap waras bagaimana pun kondisinya. Tetaplah sabar, kalau capek istirahat ya 🙂 Jaga kesehatan.

Wanita mau setangguh apa pun ia, Allah sudah menakdirkan fisiknya tak sekuat pria. Allah juga menciptakan wanita dengan perasaan yang lebih peka. Maka pahamilah ini.

Untuk keluarga yang di dalamnya ada wanita pekerja, berbahagialah. Semoga keluarganya selalu harmonis. Salinglah menyayangi dan mengerti. Meski sulit, cobalah saling menjaga dan meringankan 🙂 Semangat ~

Ingat,

Harta yang paling berharga adalah keluarga ~~

#jangannyanyi

muehehehe

Featured

Being an ENFP

Hola !

Beberapa waktu lalu saya nonton video di channelnya Sacha, dan dia ngebahas soal tes kepribadian ala Mayer Briggs. Akhirnya saya tertarik buat ikutin tesnya. Dan hasilnya, saya ENFP.

Muehehehe

Hmm

Hmm

Hmm

Saya lalu membaca-baca tentang ENFP, dan semuanya seputar ENFP saya baca, saya googling, dan saya pahami pelan-pelan.

Ternyata kayaknya bener saya ENFP.

ENFP, Extrovert, Intuition, Feeling, dan Perception. Banyak yang menulis bahwa tipe ENFP adalah kelompok ekstrovert yang paling introvert. Ya ampun itu gue banget. Oke, saya emang semudah itu kenalan sama orang baru. Gak sulit buat saya untuk berbasa-basi and say something nice untuk memulai obrolan. Tapi buat banyak hal, saya senang ke mana-mana sendiri. Saya gak suka ditemani, kecuali emang yang perlu ditemani. Saya gak suka ngerepotin orang dengan membuat mereka meluangkan waktu untuk sesuatu yang sebenernya gak mereka butuhkan. Lagian, kalo saya minta dianter sama teman, kan saya musti bayarin ongkos transport dan makannya dia. Itu alasan kedua, saya medit hemat.

Terus, saya menemukan banyak sumber yang menulis kalo kami, para ENFP, adalah manusia-manusia yang benci rutinitas. Dan lagi-lagi itu benar saudara-saudara. Beberapa bulan terakhir saya mulai kerja di kantor dan entah kenapa saya belum merasakan kesenangan saat mau berangkat ke kantor pagi-pagi banget begitu. Tapi saya senang kerja pas di kantornya wkwk. Oke, lalu lintas Jakarta di pagi hari emang nyebelin 🙂

Hmm, ya gitulah. Banyak karakteristik dari ENFP yang kayaknya bener kejadian di saya. Dan saya seneng-seneng aja sih, wkwk. Saya menerima kalau saya emang begini. And I love my self.

Oke segitu dulu. Buat yang mau cari tau lebih lanjut soal ENFP, sila baca-baca di internet, di situs yang lebih terpercaya. Buat yang mau tes kepribadian juga, sila klik link di awal postingan ini. Kenali dirimu, minum yakult tiap hari ~

#jangannyanyi

Featured

Dre

Dre
anak baik ibuk
pintar
baik
shalih
sempurna
pulanglah nak, ibuk menunggumu

Dre
teman terbaik
tersabar
tapi itu dulu
sekarang aku sungkan mau nyapa
Dre, mau gak, jadi temanku lagi?

bagaimana bisa menjadi dewasa ada batasnya?
Dre dan aku, Dre dan aku, Dre dan aku
berjarak karena kami menua
lalu ku sadar, ketenanganku terusik

Dre, jika kamu baca ini
ku mau bilang
maaf pernah nyuekin kamu.
Aku cuma malu.

Featured

“Mbak, calonnya mana?”

Umur saya 22. Tahun ini, kalau umur panjang, insyaAllah 23. Saya baru lulus, September 2018. Entah mengapa, saya mulai sering ditanya, terutama kalau lagi kumpul keluarga.

“Mbak, calonnya mana?” dan pertanyaan sejenis.

Ya gak saya bawalah wkwk. Masa saya ke Jawa atau ke Sorong bawa calon. Entar pada nanya lagi. “Nduk, iki sopo?” kan repot.

Ibu saya, yang semasa saya sekolah gak pernah nanya-nanya perkara pacar–karena anaknya gak pernah pacaran–tiba-tiba mendadak kepo. Tiap kami ketemu selalu itu yang dibahas. Saya kan jadi keki. Bingung mau jawab apa.

Kalau Ibu tuh nanyanya lebih alus, tapi langsung menjurus.

“Mbak, udah punya teman?”

Waduh.

“Banyak, Buk.”

“Ih, teman yang ituuuuu….”

Mati gue.

“Yang mana?”

“Teman menuju keseriusan.”

Halah.

Rasanya pengen kabur aja.

Hal serupa juga saya alami kalau lagi ngumpul sama keluarga besar di Jawa. Malah lebih parah, nanyanya lebih intens, karena setiap ketemu saudara, tiap orang nanya dan selalu sama.

“Nduk, udah punya calon?”

Bayangin saya ditanya begitu puluhan kali, padahal di Jawa cuma 2 hari. Kan bosen. Ada basa-basi lain gak ? Wkwk. Jangan nanya itu dong. Yang lain. Soal kerjaan kek, penempatan kek, perkara pindah rumah atau apalah. Jangan itu.

Kenapa saya gak suka ditanya soal gituan?

Satu, karena itu basa-basi. Kalo niatnya gak basa-basi, tapi mau nyariin saya jodoh sih, boleh banget. Ahaha.

Dua, karena manusia bernama calon itu belum ada. Wkwk, belum muncul di permukaan laut. Masih berenang, belum muncul buat menghirup udara, jadi saya belum melihat tanda-tanda kalau dia ada. Ini alasan yang utama, bapak ibu.

Tiga, saya masih muda. Baru mentas, baru lulus, baru mulai kerja. Nikah bukan perkara cinta doang. Butuh modal dan kesiapan mental.

Empat, saya pernah berjanji pada instansi, untuk menikah setelah saya PNS. Kapankah saya PNS? Kalo lancar, insyaAllah 2020.

Oke, jadi gitu.

Ini cuma postingan yang penting gak penting, tapi lebih ke arah gak penting. Pentingnya, saya jadi mikir kenapa saya belum punya calon. Gak pentingnya, kenapa pula saya ngepost ini di blog. Intinya, ini gak penting.

Udahlah. Saya mau lanjut kerja lagi. Mau penempatan, malah banyak kerjaan. Tapi saya seneng kerja. Semoga gak keterusan jadi workaholic. Hmm, sepertinya gak mungkin. Kalo di rumah, saya cuma mikirin keluarga dan diri sendiri. Huahaha.

Sudah ya. Bye gaes. Sampai ketemu di postingan selanjutnya 🙂

Featured

Aku Ada

oleh Dewi Lestari dan Arina Mocca (Rectoverso)

Melukiskanmu saat senja
memanggil namamu ke ujung dunia
tiada yang lebih pilu, tiada yang menjawabku
selain hatiku dan ombak berderu

Di pantai ini kau selalu sendiri
tak ada jejakku di sisimu
namun saat ku tiba, suaraku memanggilmu
akulah lautan ke mana kau selalu pulang

Jingga di bahuku, malam di depanku
dan bulan siaga, sinari langkahku
ku terus berjalan, ku terus melangkah
ku ingin ku tahu, engkau ada

Memandangimu saat senja
berjalan di batas dua dunia
tiada yang lebih indah, tiada yang lebih rindu
selain hatiku andai engkau tahu

Di pantai itu kau tampak sendiri
tak ada jejakku di sisimu
namun saat kau rasa, pasir yang kau pijak pergi
akulah lautan memeluk pantaimu erat

Jingga di bahumu, malam di depanmu
dan bulan siaga, sinari langkahmu
teruslah berjalan, teruslah melangkah
ku tahu kau tahu, aku ada

Featured

Tentang Mendewasa

Menjadi dewasa itu, ya begitu. Banyak yang saya pikirkan. Saya emang tipe manusia yang diam, tapi pikirannya ke mana-mana. Saya pikir, orang dewasa di luar sana juga begitu. Saya lagi dalam masa transisi. Dari mahasiswa labil yang inner childnya kumat gara-gara skripsi, menjadi pegawai kantoran yang pergi pagi pulang udah gelap. Yang saya lakukan, ya tinggal menjalani hari-hari saya. Sambil berusaha menyusun rencana, hidup ini mau dibawa ke mana.

Menjadi dewasa itu, butuh kesabaran. Kadang kita bingung sama banyak perubahan yang terjadi, apalagi di fase dewasa awal seperti yang saya alami. Saya rasa, karena saya masih muda, wkwk, saya tak perlu tergesa. Lihat saja hidup ini akan ke mana. Saya akan mencoba segala kemungkinan, membuka pintu-pintu menarik yang ada di depan mata.

Seperti saya yang berani mengemudikan motor mengelilingi kota, saya juga harus berani berpetualang. Saya akan terbang, melesat sejauh mungkin dari rumah saya, lalu kembali pulang. Saya akan memiliki banyak hal untuk diceritakan pada orang sekitar. Seperti elang, dengan sayapnya.

Senangnya, menjadi dewasa membuat saya lebih banyak berpikir dengan logika. Lebih sedikit emosi tak perlu yang terlibat. Ini menyenangkan. Saya jarang merasa sedih, atau kecewa, atau berharap. Rasanya dunia ini menjadi lebih normal, nyaman, dan seimbang. Memang seperti itu adanya.

Saya berjanji, akan lebih banyak mensyukuri yang saya miliki, menjadi lebih bahagia, melihat sisi positif dari semua hal selain sisi negatifnya, dan hidup sehat.

Selamat tahun baru 2019 🙂

Featured

Pengetahuan untuk Para Cowok tentang Menstruasi

Halo semuaaa ~

Semoga sehat selalu. 

Kali ini, saya mau ngomongin soal menstruasi. Saya mikir, ini blog penulisnya cewek, tapi gak pernah ngebahas masalah kewanitaan. Kayaknya gak masalah sih kalo sekali-kali ngomongin ini. Kalo yang baca tulisan ini cewek, ya semoga kalian kuat ya menghadapi aktivitas rutin setiap bulan ituh. Stay strong, girls ! Kalo yang baca cowok, semoga aja kalian memahami apa yang terjadi pada kami, sesuatu yang sulit kami jelaskan pada kalian. Semoga kalo ada cowok yang baca ini, jadi semakin mengerti, dan peduli sama cewek di sekitarnya, misal keluarganya, yang lagi menstruasi. Secara kan para cowok gak ngalamin, jadi saya pikir pengetahuannya pasti minim, kecuali kalian emang tenaga medis. Jadi, semoga tulisan ini bisa mengurangi ke-kepoan kalian. Btw cowok kepo gak sih, soal menstruasi ? Wkwk

Oke.

Jadi, setiap cewek di muka Bumi ini, sejak dia baligh sampai sebelum menopouse, normalnya akan mengalami menstruasi setiap bulan. Usia baligh tuh macem-macem mulainya, tiap cewek beda-beda. Ada yang pertama kali di umur 12 tahun, ada yang lebih awal, misalnya 9 tahun, ada juga yang pertama kali menstruasi di usia SMA. Pokoknya gak bisa disamain.

Terus, menopouse itu adalah suatu masa di mana wanita gak menstruasi lagi. Nah, kalo udah menopouse, wanita gak akan bisa punya anak lagi. Biasanya menopouse terjadi di usia 40 ke atas. Sekali lagi, setiap wanita gak bisa disamain. Jadi menstruasi itu adalah salah satu tanda kalo wanita masih bisa punya anak, karena di saat menstruasi sel telur yang gak dibuahi oleh sel sperma akan meluruh keluar bersama dengan darah menstruasi. Gimana kalo sel telurnya berhasil dibuahi ? Wanita akan hamil. Pertemuan sel telur dan sel sperma akan berkembang menjadi janin, calon bayi. Jadi, wanita hamil gak akan mengalami menstruasi.

O iya, hubungan seksual sekali saja, kalo hoki, terus sel telurnya berhasil dibuahi, dapat menyebabkan kehamilan. Jadi, pastikan hubungan seksual dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah. Biar pas dapat kabar hamil seneng, bukannya bingung. Ehe.

Lanjut.

Kenapa tadi saya bilang normalnya wanita akan menstruasi tiap bulan ? Soalnya rata-rata siklus menstruasi itu ya sebulan sekali. Tapi sekali lagi kawan-kawan, setiap wanita itu gak bisa disamain. Ada yang siklusnya lebih dari sebulan, misal 40 hari, ada yang lebih cepet, misal 3 minggu sekali. Siklus itu apa sih ? Misal wanita siklusnya 30 hari, maka setiap 30 hari akan mengalami menstruasi. Gitu.

Berapa lama wanita akan mengalami menstruasi ? Rata-rata, selama 7-8 hari. Ada yang cuma 5 hari, ada yang lama bisa sampai 15 hari. Setiap wanita gak sama. Ini udah keempat kalinya saya bilang. Wkwk. Kalo di Islam, hubungan seksual di saat istri lagi menstruasi itu dilarang. Yang dilarang itu adalah penetrasi penis ke liang vagina. Sila baca di sini.  Jadi, sabar ya suami. Sayangi istri kalian. Taati aturan agama.

Sebenernya apa sih yang dirasakan wanita kalo lagi menstruasi ?

Sakit bok. Sakit banget. Kondisi setiap wanita itu gak sama, tapi rata-rata kami gak nyaman saat sedang menstruasi. Kondisi paling umum yang dirasakan adalah keram perut. Sakit perutnya. Kalo saya sih, kadang sakitnya sampe ke punggung. Gak enak banget. Rasa sakitnya akan semakin berkurang di hari-hari selanjutnya. Biasanya di hari-hari awal menstruasi itu sakitnya berasa banget. 

Selain keram perut, biasanya ada gejala lain, misalnya pusing, kembung, konstipasi, dan mudah lelah. Akibat ke psikis adalah, kami jadi sensitif dan gampang marah. Wkwk. Wajar kan, karena lagi gak enak badannya. Bisa dimaklumi juga kalo ada cuti khusus selama 2 hari saat menstruasi yang diatur dalam 
Pasal 81 ayat (1) Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Untukmu girls, gunakan hak cutimu. Sehat terus ya cantik.

Sama seperti kondisi kesehatan lainnya, menstruasi dapat dipengaruhi oleh hal lain, misalnya stres. Yang namanya stres itu emang bikin badan jadi ngaco. Akibatnya, bisa jadi menstruasi datengnya telat atau lebih cepat, durasinya jadi lebih lama, atau sakit-sakit yang mengiringi menstruasi jadi lebih parah. Selain itu, menstruasi juga dipengaruhi sama kesehatan alat reproduksi wanita. Penyakit yang terjadi di rahim, seperti endometriosis, itu juga bisa ngaruh ke menstruasi.

Untuk para wanita di luar sana, semangat. Buat dirimu senyaman mungkin selama menstruasi. Kalo emang biasa mengonsumsi Kiranti atau Feminax gitu, selama bisa bikin kalian nyaman, lakuin aja. Saya biasanya ngompres perut pakai air hangat kalo lagi menstruasi, supaya mengurangi sakitnya.

Apa yang bisa dilakukan orang sekitar ?

Satu, bersikaplah lebih sabar dan pengertian. Jangan malah nyebelin dan banyak menuntut. Jangan cerewet. Jadilah lebih perhatian. 

Dua, bersedialah membantu kalo kami butuh bantuan, terutama kalo kami merasa sakit.

Itu aja sih. Gak repot kan ? Jadilah lebih peduli.

Oke, selamat hari Senin. Semangat ya, weekend masih lama huhu.

Featured

Kesan Pertama

“Dulu aku pikir kamu tuh orangnya dingin gitu lo Sahda,” kata Innah, saat kami mau solat Duhur di mushola lantai 7.

“O iya ? Terus?” tanya saya.

“Ternyata biasa aja.”

Pengakuan Innah siang itu sebenernya bukan yang pertama. Beberapa teman sebelumnya pernah jujur bilang ke saya kalau kesan pertama mereka pas ketemu saya itu, saya orangnya agak menakutkan. Katanya saya orangnya dingin dan selalu serius. Hmm, pasti ini karena faktor muka. Ahaha, mau gimana lagi, muka saya settingannya udah galak. Diem aja kayak lagi ngambek. Kayaknya faktor alis yang tebel juga sih. Jadi yaudahlah pasrah aja.

Tapi saya gak galak kok. Cuma pendiem aja. Eh, gak pendiem juga sih. Tapi ngomong seperlunya. Saya bakal rame kalo ketemu sama orang yang klop. Gitu deh.

Manusia emang menilai dari tampilan luar dulu sebelum mengenal pribadi orang. Udah settingannya begitu. Udah sunnatullah begitu. Gak heran kan, orang-orang berusaha tampil menarik supaya disukai. 

Saya? 

Umur saya 22 dan entah kenapa saya berprinsip, dalam penampilan itu yang penting bersih dan rapi. Saya suka pakaian yang simpel dan nyaman, plus gak ribet dipakai. Hidup itu udah rumit, jadi ngapain kita memusingkan diri dengan urusan pakaian. Pakai baju yang heboh dikit boleh kok, tapi pas kondangan aja, atau pas nikahan gitu. Tapi kalau kalian suka gaya yang heboh gitu ya terserah sih, wkwk.

O iya sampai mana tadi?

O iya masalah kesan pertama. Kata-kata klise, “don’t judge a book by its cover” kayaknya bakal berlaku sampai kapanpun deh. Sisi lain yang bisa kita lihat adalah untuk lebih bisa menghargai orang lain. Dan mau membuka diri sama orang lain, yang kayaknya sih, galak. Ehe. 

 

Featured

Tentang Tulisan yang Tertunda

Jadi gini, mulanya saya gak mau nulis tentang ini, tapi tentang yang lain. Berhubung tulisan itu saya pending karena entahlah kenapa, sulit rasanya untuk memulai lagi. Kayak udah hilang feeling nya. Nggak, saya gak ilfil sama tulisan sendiri. Saya kesel karena nunda nulis yang menyebabkan “rasa” itu hilang. Definisi rasa adalah keinginan, bahkan kisah yang mau diceritakan. Saya lupa. Terutama tulisan di blog. Begitulah.

Mungkin saya kudu lebih niat lagi nulisnya. Misal, ditulis gitu idenya, wkwk

Tapi gak enak sih. Nulis di blog gitu enaknya spontan. Biar langsung ngalir. Tulisan yang kepending kayak kurang apinya. Datar.

Ibrohnya, jangan menunda. Ini juga catatan penting buat diri sendiri.

Oke, selamat hari Senin, teman-teman.

Featured

Perempuan Paling Cantik

Hari itu, saya, perempuan paling pecicilan di dunia, didapuk menjadi moderator di suatu acara kajian muslimah. Aneh betul, pikir saya. Biasanya saya gak bisa diam dan jauh dari kata feminin. Perempuan yang kelewat mandiri sampai orang tua khawatir soal masa depan saya, wkwk. Tapi ya sudahlah. Sudah mengiyakan, mau apa lagi. Biarlah hari itu saya tampil manis layaknya ukhti-ukhti. Jadi pahamilah wahai manusia di luar sana, ukhti-ukhti yang nampaknya anggun kalem menghanyutkan juga punya sisi lain yang tak terduga. Ingat, jangan menilai orang dari bajunya. Dan lagi, jangan lupa bahwa perempuan adalah makhluk paling misterius di dunia.

Pembicara yang saya dampingi adalah seorang daiyah sekaligus ibu dari 3 anak. Saya menyambutnya begitu sampai di lokasi acara. Perempuan itu, mungkin pembicara paling sederhana yang pernah saya temui. Beliau memakai gamis dan kerudung dengan warna senada, dan tanpa make up. Beliau naik kereta dari rumahnya. Lihat, bahkan tidak meminta dijemput sama panitia, padahal rumahnya masih di area Jabodetabek.

Demi mengakrabkan diri biar ga canggung di atas panggung, saya menemani beliau hingga tiba waktunya kami naik panggung. Perempuan itu, masyaAllah, hanya ketenangan yang saya dapatkan ketika berada di sisinya. Saya bahkan tak perlu berusaha mencari bahan obrolan. Saya tidak merasa canggung atau pun sungkan karena baru kenal dengan beliau. Semuanya mengalir begitu saja. Rasanya mudah sekali.

Lalu, tibalah sesi kajian.

Pernah ga sih kalian melihat orang yang begitu passionate sama apa yang dia kerjakan? Misalnya pelukis, penulis, pengrajin tembikar yang tekun sekali. Itu yang saya lihat kemarin. Beliau sangat hmm…. apa ya, menikmati waktunya sebagai pembicara di acara itu. Dan perasaan itu menular pada siapa pun yang mendengar isi tausyiahnya. Para peserta juga sangat antusias. Menyenangkan sekali.

Hari itu, saya, perempuan yang masih hijau, merasa sangat beruntung karena dipertemukan dengan perempuan yang sudah banyak pengalaman dalam hidup. Memang benar, dari yang lebih tua kita belajar. Saya juga sedikit tersentil untuk mengubah pandangan saya tentang definisi cantik.

Mulanya, saya merasa perempuan cantik adalah yang wajahnya menarik. Namun Tuhan tidak memberi paras cantik pada setiap perempuan. Ada yang dinilai biasa saja oleh manusia lainnya. Itulah yang menyebabkan kecantikan bersifat subjektif. Namun ternyata ada cantik yang lain. Cantik yang menenangkan, yang mendamaikan jiwa. Cantik yang tak terlihat dari lahiriah saja. Cantik hati, cantik akhlak, cantik pribadinya, ditambah pemahaman agama yang baik.

Perempuan itu, adalah perempuan paling cantik yang pernah saya temui.

Featured

Abiwara

Sayangku, kamu terlalu indah. Pesonamu hebat sekali. Mungkin saat ini, kau adalah manusia paling sakti. Kau mampu membuat manusia jatuh cinta pada pandangan pertama. Semua sayang kamu, semua ingin memelukmu.

Abiwara, kini kau tumbuh menjadi anak laki-laki paling hebat di keluarga kita. Kau jarang menangis. Bertemu orang baru pun kau begitu murah senyum. Kau mamandangku, mengamati wajahku saat aku memelukmu. Abiwara, tahukah kau betapa bahagianya aku, saat tangan mungilmu menjangkau pipiku, daguku. Kau begitu menggemaskan. Sayangku, maukah kau kubawa pulang?

Abiwara, lihatlah betapa aktifnya kau menendang. Padahal kau gendut. Ya ampun bagaimana bisa kau segendut itu. Sayangku, jadilah anak yang sehat. Ingat, keluarga kita adalah keturunan yang kuat.

Sayangku, jadilah anak yang penurut, patuh pada orang tua. Hormatilah ibumu. Ialah wanita terbaik yang Allah pilihkan untukmu. Aku sangat menghormatinya, karena kebaikan hatinya. Sayangilah ibumu sebagaimana ia menyayangi nenekmu. Abiwara, ayahmu adalah orang yang baik dan sangat menghormati orang tua. Ia adalah lelaki yang cerdas, kuat dan bahagia. Abiwara, jadilah sehebat orang tuamu, bahkan lebih dari itu.

Abiwara, jadi apa pun saat besar nanti, aku akan selalu mendukungmu. Jadilah orang yang hebat. Ingatlah Tuhanmu, Nabimu, di mana pun engkau berada. Jadilah anak yang shalih, sepanjang hidupmu.

Abiwara, semoga Allah merahmatimu selalu.

 

 

Salam sayang,

Bulek Sahda

Featured

puisi rabu pagi

untukmu yang berjalan di depanku
kamu dan aku adalah jiwa-jiwa yang pantas berbahagia
setelah sekian lama, ternyata aku tak bisa biasa saja
karena kamu tidak biasa saja bagiku
pagi ini aku bercermin
lalu ku sadar, aku cantik
dengan pipi merah jambu dan kacamataku
kemudian aku tersenyum
hari ini begitu indah
dengan banyak kisana memenuhi halaman tempat kerja
para pengabdi negeri yang baik hati
dan aku masih lega dan bahagia
meski kakiku sakit
perutku sakit
tapi aku tak mau sedih
karena perasaan itu, kita yang tentukan
untukmu yang berjalan di depanku
semoga hatimu sehangat rumahmu jam 4 sore
saat matahari sudah tak terlalu terik
semoga harimu seindah pelangi
warna-warni.

 

Featured

Bagaimana cara mengungkapkan cinta?

Tulisan ini terinspirasi story Whatsapp teman saya yang terbaca pukul 01.15 dini hari, saat kereta yang saya tumpangi sedang melaju kencang dari Purwokerto ke Cirebon. Saya yang terbangun karena panggilan alam lantas mengecek ponsel yang sejak Isya saya matikan untuk dicharge.

Saya lupa isi storynya gimana. Pokoknya ada jepang-jepangnya gitu. Inti dari story itu adalah pertanyaan yang menjadi judul dari tulisan ini.

Bagaimana cara mengungkapkan (perasaan yang lebih rumit dari senang atau sedih, misalnya) cinta?

Begitu saya baca, pikir saya, kenapa dibikin rumit ?

Bukankah cinta itu sama dengan perasaan lainnya yang dapat dirasakan oleh hati, seperti senang, sedih, kecewa, marah, dan sayang ? Manusia saja yang melebih-lebihkannya di atas perasaan yang lain.

Di gerbong tempat saya duduk, ada dua balita, lelaki dan perempuan. Yang laki-laki naik di stasiun sebelum saya, entah dari Blitar atau Malang. Yang perempuan naik dari stasiun Nganjuk. Dua anak kecil itu bertemu di kereta. Sepanjang sore, mereka lantas bermain bersama, berlarian bersama dari ujung gerbong ke ujung satunya. Tenaganya bagai tak pernah habis. Mereka tertawa-tawa, bahagia sekali. Menghibur kami, para orang dewasa yang kadang untuk senyum aja harus mikir alasannya apa. Tapi lihatlah anak-anak kecil itu, mereka begitu sederhana. Semudah itu mengekspresikan mereka bahagia.

Saya ingat pertanyaan saya ke Ayah selepas Isya tadi malam.

“Kenapa sih manusia dewasa itu rumit, Yah ?”

“Enggak, kok. Rumit apanya?”

“Yaaa banyak aturan gitu.”

“Biar dunia ini damai.”

“Kenapa sih manusia itu banyak maunya?”

“Udah sunnatullah, gak sih?”

“Biar gak rumit kudu gimana?”

“Yaaa jalani aja. Jadi manusia yang lurus, jangan melenceng dari rel. Nanti gak sampai ke tujuan.”

“Tujuannya apa?”

“Surga. Apa lagi?”

Oke, mungkin percakapan ini agak nggak nyambung sama judulnya. Tapi yaudahlah ya.

Buat saya, cinta itu universal. Manusia dengan hati yang penuh cinta, akan semudah itu membagikan cinta ke orang lain. Mereka akan semudah itu berbuat kebaikan, memberi manfaat bagi manusia lainnya. Cinta itu, sama seperti perasaan marah, gembira, dan bersyukur yang harus diungkapkan. Perasaan itu harus diungkapkan. Kalau tidak, ya overload, bikin hati kewalahan, campur aduk dan tak bisa tenang.

Bagaimana cara mengungkapkan cinta ?

Ungkapkan dengan sederhana. Karena sungguh, kerumitan itu akan mempersulit dirimu sendiri, kawanku.

Bagaimana mengungkapkannya, tergantung objek yang kau cintai.

Kau mencintai Tuhanmu, maka banyaklah bersyukur. Beribadahlah untuk dirimu sendiri, sebagai bentuk kepatuhan dan rasa syukurmu atas hidup yang indah ini.

Kepada nabimu, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, bershalawatlah untuknya. Ikutilah ajarannya, sunnahnya, petunjuknya. Itulah bukti kau betul mencintainya. Dalam Al Quran disebutkan,

Katakanlah, Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Ali ‘Imran: 31).

Jika kau mencintai nabimu, maka Tuhanmu pun akan mencintaimu. Kawanku, apa lagi yang kau harapkan?

Kau mencintai manusia-manusia berjasa, maka cobalah untuk berhubungan baik pada mereka jika masih hidup. Jika sudah tiada, maka doakan mereka, bersedekahlah untuk mereka.

Kepada keluargamu, bantulah keluargamu, jagalah keluargamu. Sebelum kau memikirkan definisi cinta yang bagimu rumit, perhatikanlah apa kau cukup mencintai keluargamu? Sudahkah keluargamu tercukupi kebutuhannya? Sudahkah keluargamu merasa bahagia ? Kawanku, tahukah kau, orang yang paling sering kita sakiti adalah orang terdekat kita, keluarga kita. Maka cinta dalam hatimu, haruslah banyak-banyak kau limpahkan untuk keluargamu.

Kepada masyarakat di sekitarmu, tetanggamu, berbuat baiklah. Seringlah berbagi, di mana pun kau berada.

Bagaimana ? Sudah kan ?

Ah, kau tanya saya bagaimana mengungkapkan cinta kepada lawan jenis yang entah bagaimana bisa menarik hatimu?

Ya ampun, memangnya kau sudah cukup dewasa untuk menghadapi perasaan seperti itu ?

Mencintailah dengan sederhana, kata Sapardi.

Saya membayangkan, dua anak balita yang segerbong denganku tadi, sudah dewasa, berusia awal dua puluhan. Mereka saling tertarik satu sama lain. Tapi masih malu, karena belum kenal, karena mereka laki-laki dan perempuan. Misal mereka ingin ketertarikan itu menjadi sebuah hubungan, apa yang harus dilakukan ?

Salah satu dari mereka, atau dua-duanya, harus mengambil langkah untuk berkenalan. Entah dengan orangnya langsung, atau dengan keluarganya yang turut menemaninya naik kereta. Take an action !

Nah, terjawab kan?

Kalau malu dan belum berani berkenalan?

Tak masalah. Semua kisah cinta punya waktunya masing-masing. Doakan saja dia sebanyak yang kau bisa. Kau tahu kawanku, mendoakan adalah perwujudan cinta terbesar. Kenapa? Karena kau mau Tuhan menjaganya. Hati yang baik, yang penuh cinta akan semudah itu mendoakan orang lain. Bapak cleaning service misalnya, doakan saja rejekinya berkah dan hatinya bahagia. Tak perlu orang lain tau kita sedang mendokannya. Kurang indah apa coba?

Perasaan itu, apa pun bentuknya, harus diungkapkan, entah lewat cara apa. Bisa lewat perbuatan, bisa lewat perkataan. Namun perkataan harus sejalan dengan perbuatan. Kalau tidak? Ya plin-plan namanya.

Kau mau tau perasaannya padamu ? Tanya.

Kau mau dia tau perasaanmu ? Bilang.

Dari jawaban itu, maka tentukan langkah selanjutnya. Sederhana bukan ? Ah, orang yang sedang mencinta kadang tak menggunakan akal sehatnya, semua dibikin rumit.

Hari ini aku kembali ke kantor setelah akhirnya tiba di Jakarta pukul 05.00 tadi pagi. Semoga Senin ini kau sudah mendoakan orang lain, kawanku 🙂

 

 

PS. Mungkinkah dua balita di kereta itu akan berjodoh ? Hmm, hanya Allah yang tau.

 

 

 

Featured

Wanita, Racun Dunia

Baru kusadari, betapa penting membahas topik yang satu ini. Judul di atas, merupakan lirik lagu The Changcuters yang sempat booming waktu saya SD. Dan, ketika saya menua sepuluh tahun kemudian, akhirnya saya tau. Lirik itu benar adanya.

Jauh sebelum The Changcuters bikin lagu itu, manusia paling agung sepanjang zaman, manusia yang memberi cahaya pada kehidupan umat manusia, telah menyatakan hal yang sama.

Hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan dari Usamah Bin Zaid. Beliau bersabda, 

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari: 5096 dan Muslim: 2740)

Bagaimana bisa ?

Bagaimana bisa wanita membahayakan laki-laki ? Bagaimana bisa kami menggoyahkan makhluk yang secara kekuatan dan akal lebih hebat dari kami?

Sekadar informasi, penulis postingan ini adalah wanita :’)

Jawabannya, sudah sunnatullah. Sudah settingannya. Sudah dari sananya. Aturan yang dibuat Allah memang demikian adanya.

Allah berfirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآب

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali ‘Imran: 14)

Tak dapat dipungkiri, fitnah wanita lebih berbahaya di masa-masa sekarang ini. Maaf-maaf kata nih, jaman sekarang, wanita banyak yang mengumbar auratnya. Tidak berpakaian rapi, tertutup, sebagaimana yang seharusnya. Wanita, mestinya malu jika auratnya tampak, mestinya risih jika bagian tubuhnya terbuka. Tapi, kemanakah rasa malu itu ?

Kadang saya sebagai wanita pun, bingung dengan sikap kaumku 😥

Rasa malu adalah salah satu kunci kebaikan. Karena malu berbuat maksiat, maka kita berbuat baik. Mungkin rasa malu yang seharusnya dimiliki oleh setiap muslim dan muslimah itu, tidak tertanam dengan baik dalam diri sanubari. Akhirnya ya gitu.

Para keluarga muslim, sebaiknya harus membiasakan anak-anak perempuannya untuk memakai baju panjang dan kerudung sedari kecil. Keluarga juga sebaiknya menanamkan pentingnya menutup aurat. Sehingga begitu sang anak menginjak usia baligh, mau menutup auratnya dengan sukarela.

Itu baru soal aurat loh. Belom lagi yang soal perilaku dan sebagainya.

Jadi, para lelaki akhir zaman, jagalah diri kalian dari wanita yang bukan mahram. Hati-hati. Seriusan hati-hati. Jagalah diri kalian dari kami. Karena sungguh kami bisa mengganggumu, mulai dari pikiranmu. Pikiran adalah penggerak anggota badan. Maka, jagalah pikiranmu agar tetap sehat, agar tetap lurus.

Itu ya, sudah kuperingatkan.

Dan untukmu saudariku para wanita, berusahalah menjadi shalihah. Jaga dirimu, agar kau dapat menjadi sebaik-baik perhiasan dunia 🙂

 

Sumber :

Hadis dikutip dari

https://muslim.or.id/19526-wanita-ujian-terbesar-kaum-laki-laki.html

Featured

Butamtik dan Aku

Ini cerita tentang seseorang yang tak kutahu namanya siapa. Kenapa ? Kau mau protes ? Terserah aku lah mau cerita tentang siapa. Sudah, jangan marah padaku. Nanti aku tak mau cerita lho.

Aduh, kenapa aku malah marah-marah begini sih?

Jadi begini. Aku pertama kali bertemu dia, saat kami hendak mencegat angkot. Kami sama-sama baru pulang. Hari itu, aku memakai baju panjang berwarna hitam, kerudung biru tua, dan menenteng tas berwarna coklat. Kenapa? Tidak berkesinambungan ya bajuku? Ah, biarlah. Waktu itu aku sedang malas memilih baju. Repot pikirku, karena sudah lelah baru pulang dari kampus. Eh tapi sandalku berwarna coklat ding. Masih nyambung kan, dengan tasku.

Orang yang mau kuceritakan ini, hmm baiklah kita beri dia julukan. Siapa ya ? Bagaimana kalo Butamtik ? Itu singkatan dari abu-hitam-batik whahaha. Saat aku pertama kali bertemu dia, dia pakai bawahan warna abu-abu, dan atasan batik hitam. Dia pakai ransel warna abu-abu dan sepatu hitam. Kenapa ? Tak berkesinambungan ya? Biarlah. Terserah dia.

Lalu, apa yang kami lakukan ? Yaaaa mencegat angkotlah. Kami harus segera pulang.

Jadi angkot warna biru itu mulai mendekati kami. Karena posisi berdirinya lebih dekat dengan arah datangnya angkot, Butamtik naik duluan, lalu aku. Bagimu yang tak pernah naik angkot di Jakarta, kuberitahu ya. Posisi duduk di angkot itu saling berhadap-hadapan di bangku panjang. Akhirnya aku duduk di belakang sopir. Butamtik duduk di bangku yang berseberangan denganku. Lalu angkot mulai berjalan ke arah rumahku.

Lalu apa ?

Ya sudah begitu saja ahahaha.

Selama di angkot aku sekilas mengamatinya. Sepertinya orang kantoran. Bajunya rapi. Lalu aku menatap ke luar lagi. Melihat kendaraan di sepanjang jalan raya. Aku merasa, Butamtik juga terkadang melihat ke arahku. Ku tatap dia. Dan dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Hal itu terjadi beberapa kali.

“Kiri, Pak,” Butamtik berseru pada sopir angkot. Wah, ternyata dia yang turun lebih dahulu. Aku diam, bersikap setenang mungkin. Padahal aku cukup kaget. Kau tau kenapa? Karena Butamtik berhenti dua gang sebelum gang rumahku. Ya ampun, ternyata kami bertetangga? Astaga, kok aku belum pernah lihat ya?

Ah, aku tak ingin pusing. Kita harus melihat sisi positif dari hal ini. Alhamdulillah, sekarang aku tau, bahwa dia tetanggaku, yang tinggalnya tak jauh dari rumahku. Sudah, itu cukup.

Butamtik turun dari angkot. Dia membayar lewat pintu depan. Lalu menerima kembalian, dan dimasukkan ke dalam tas. Butamtik melihat ke arahku sekali lagi. Kebetulan aku juga sedang melihatnya yang tengah repot sendiri menutup resleting tas. Akhirnya angkot berjalan lagi. Meninggalkan Butamtik sendiri.

Aku kemudian turun di gang rumahku dengan rasa penasaran yang tak jua hilang. Siapa dia? Wajahnya itu, hmm sepertinya familiar. Sepertinya aku sudah pernah melihatnya, tapi aku lupa di mana.

Pertemuan pertamaku dengan Butamtik, seperti itu adanya. Kenapa ? Kau sebal karena tak ada yang spesial ? Kau kesal karena aku tak berani menyapa duluan seperti biasanya? Waktu itu kan posisinya kami adalah dua orang yang sama-sama asing, yang kebetulan naik angkot yang sama. Sudah itu saja.

Aaaaahh. Sudahlah.

Yang jadi motivasiku kenapa mau cerita soal Butamtik padamu, adalah karena takdir tuhan. Jadi begini, sebagai mahasiswa tingkat akhir yang selalu mengerjakan skripsi setiap hari, aku selalu pulang dari perpustakaan jam 5 sore. Aku kemudian menyeberang jalan raya, lalu lewat gang besar untuk membeli makan malam. Aku tidak tahu hari itu ada apa, yang jelas, aku, tanpa direncanakan, tiba-tiba melihat seseorang dengan bawahan hitam dan jaket abu-abu, di gang besar yang kulewati.

Itu Butamtik.

Wakwaw.

Aku lumayan terkejut. Tapi wanita dewasa sepertiku harus pandai menyembunyikan perasaan dan menutupi ekspresi yang tak perlu. Hmm, aku terus berjalan, tetap setenang mungkin. Padahal badanku rasanya pegal semua setelah seharian berusaha menyelesaikan skripsi. Butamtik berjalan di depanku. Aku perlahan menyusul dari belakang. Eh, tanpa kuduga, dia berbalik, berjalan ke arahku, lalu menghilang ke dalam gang yang lebih kecil.

Aku bingung. Tapi tetap tak peduli. Pikiran-pikiran penasaran memenuhi kepalaku. Ah, sudahlah.  Aku lapar. Aku mau beli makan.

Kau masih penasaran, siapa Butamtik itu ? Sama aku juga. Mari kita lanjutkan.

Pertemuan ketigaku dengan Butamtik, kembali terjadi karena takdir tuhan. Iya, semua hal yang terjadi di hidupku adalah karena ketetapan tuhanku. Waktu itu, aku baru pulang dari gladi bersih untuk upacara wisudaku. Alhamdulillah, akhirnya aku lulus sidang skripsi. Senang sekali rasanya bisa lulus sekolah. Setelah dari kampus, aku mampir ke studio foto, bilang pada bapak keturunan China yang menjaga meja kasir bahwa aku mau foto dua hari lagi, selepas upacara wisuda. Lalu aku beli martabak telur, lalu beli lauk di warteg, untuk makan malam. Padahal tanganku sudah kerepotan membawa boneka wisuda kenang-kenangan dari teman sekelas. Tahukah kau, baru berjalan beberapa langkah meninggalkan warteg, aku melihat sosok yang tak asing.

Itu Butamtik.

Dia berpapasan denganku. Aku masih bisa melihat senyumnya waktu itu, sembari tanganku yang repot membawa boneka dan makanan. Kami berpapasan, lalu meneruskan langkah berlawanan arah. Mungkin dia tersenyum karena melihatku kerepotan. Yang pasti, aku tak menyangka akan bertemu dengannya lagi. Dia masih memakai jaket dan ransel abu, serta bawahan hitam. Ya ampun, memangnya dia tak punya jaket lain ?

Aku berpikir, mungkinkah Butamtik akan terus menjadi misteri bagiku? Kami sudah tiga kali bertemu dan aku tak juga tau siapa dia.

Akhirnya, setelah lulus kuliah, aku mulai bekerja. Seperti penduduk Jakarta yang lain, yang super rajin, yang selalu berangkat kerja pagi-pagi benar, seperti itulah kehidupanku dalam beberapa minggu terakhir. Aku selalu naik bus kota ke tempat kerja dan berangkat sebelum pukul 06.30. Biasanya pukul 06.30 aku sudah berada di halte bus.  Dan kebiasaan baru inilah yang mempertemukan aku dengan Butamtik kembali.

Aku ingat benar hari itu. Hari di mana aku bertemu Butamtik, setelah sekian lama, tepatnya 26 hari tidak bertemu dengannya. Ya ampun, aku bahkan melihat kalender dan menghitung harinya. Tidak, aku hanya iseng saja. Aku suka keakuratan. Itu sesuatu yang penting.

Hari itu hari Selasa, tanggal 2 Oktober 2018, pukul 06.30 pagi. Berhubung tanggal itu adalah hari batik nasional, kantorku meminta seluruh karyawan berpakaian batik. Pagi itu aku berangkat bersama Nala, teman sekantorku. Kebetulan kami berpapasan di jalan menuju halte bus. Aku dan Nala sedang menunggu bus, sayangnya bus-bus yang datang penuh semua, sehingga kami tak diizinkan masuk. Setelah 10 menit menunggu bus, dari arah pintu masuk halte, datanglah seseorang dengan ransel, jaket, serta bawahan berwarna abu-abu.

Ya ampun, itu Butamtik.

Astaga.

Astaga.

Ini aku tak salah lihat kan ?

Butamtik sedikit berbincang dengan beberapa orang di depanku, nampaknya menanyakan kenapa busnya tak jua tiba. Aku masih mengamatinya. Lalu, tanpa sengaja tatapan kami bertemu. Aku sengaja tak mengalihkan pandanganku. Aku melihatnya. Dia melihatku. Dan, dia tersenyum padaku.

Aku serius. Astaga, aku bahkan masih ingat senyuman itu.

Bus selanjutnya tiba. Masih penuh juga. Butamtik dan beberapa orang lain mencoba masuk dan berhasil. Terlalu penuh. Aku dan Nala memutuskan naik bus berikutnya. Hari itu, kami terlambat 5 menit.

Siangnya, di kantor, aku shalat Dzuhur di masjid. Selesai shalat, aku hendak kembali ke ruangan bersama teman-temanku. Langit Jakarta cerah meski tak biru. Musim hujan memang belum kunjung menyapa kami. Ah, aku benar-benar rindu hujan, gerimis, dan perasaan kedinginan yang membuatku ingin meringkuk lebih lama di balik selimut. Aku rindu menyentuh dinding kamarku yang dingin karena hujan di luar rumah. Hujan menawarkan keromantisan dengan segala inspirasinya. Apakah aku sedang butuh inspirasi ? Bisa jadi. Aku harus menulis sesuatu, tapi tak kunjung kumulai.

Aku memakai sepatu, melangkah meninggalkan masjid. Kau tau kawan, tanpa sadar, aku menoleh ke kiri. Aku melihat seseorang dengan bawahan abu, atasan batik berwarna hitam, sedang memasuki masjid.

Itu Butamtik.

Aku terkejut. Sempat terbengong sekian detik, lalu bersembunyi di balik tembok saking kagetnya. Ya ampun, manusia misterius itu, manusia yang membuatku penasaran, ternyata dia, ternyata dia, satu kantor denganku.

Keajaiban apa ini ?

Tuhanku, sesungguhnya engkaulah yang mengetahui segalanya di langit dan di bumi.

Aku mengabari temanku via chat, aku bercerita pada Marissa, teman satu ruanganku, karena sungguh, aku tak bisa menahan hal besar ini sendirian. Ya ampun, Butamtik ternyata satu kantor denganku. Di gedung mana sih dia ? Aku bahkan tak pernah berpapasan saat hendak ke ruangan.

Dua hari kemudian, hari Kamis, ternyata aku dan Butamtik bertemu lagi. Pukul 06.30 pagi, di halte bus. Ya ampun, takdir ini benar-benar misteri. Aku mulai menaiki tangga menuju halte bus. Saat itu aku melihatnya. Seseorang dengan bawahan, jaket dan ransel berwarna abu-abu. Lengkap dengan kacamata dan senyumnya yang baru kusadari ternyata lumayan manis itu.

Itu Butamtik.

Astaga.

Aku kaget, refleks menyentuh dadaku, berusaha menenangkan diri. Ya ampun, wanita dewasa sepertiku harus tau bagaimana caranya bersikap. Aku terus berjalan dengan jantung tak karuan. Aku berpikir, Butamtik pasti berjalan di belakangku. Aduh, aku harus bagaimana ini?

Aku tak berani menoleh ke belakang. Sungguh, aku tak berani beradu pandang dengannya.

Dan beberapa detik kemudian aku kesal karena kecemasanku tak berdasar.

Manusia itu, Butamtik, sudah melenggang santai memasuki halte bus dengan cara menyebrang jalan, melintasi jalur bus, lalu masuk ke dalam halte dengan melompati tangga pendek, yang seharusnya tak boleh dilakukan. Aku tak suka melihatnya. Akhirnya dia punya satu kekurangan yang berarti di mataku. Tidak menaati peraturan. Bukan ciri warga negara yang baik.

Hari itu aku memakai rok coklat kunyit, blus hijau pastel, dan kerudung hijau tua. Aku memeluk ransel oranye kebanggaanku. Hari itu, halte penuh. Bus terlambat datang. Dari percakapan orang-orang, ternyata bus mengalami kecelakaan di suatu jalur. Hal itu menyebabkan gangguan pada rentetan bus-bus di belakangnya. Aku dan ketiga temanku akhirnya memutuskan untuk memesan kendaraan online. Beberapa teman yang lain juga melakukan hal yang sama. Butamtik ? Tentu saja dia juga melakukannya. Dia keluar halte, sambil mataku terus mengikutinya.

Manusia itu, Butamtik, hendak lompat pagar lagi.

Dia sudah membuat ancang-ancang, mengamati sekelilingnya, hingga mata kami bertemu.

Kami saling menatap. Aku memperhatikannya tanpa ekspresi. Kami lihat-lihatan sekitar satu menit.

Akhirnya, dia menurunkan tangan dan kakinya, urung melompati pagar halte. Ia berbalik, berjalan memunggungiku yang masih menatapnya. Butamtik terus melangkah, menyusuri jalur masuk halte yang lumayan panjang, dan keluar lewat pintu yang benar. Ia tak jadi melakukan pelanggaran. Keputusan bagus, anak muda.

Aku tertawa, menyadari betapa lucunya kejadian itu. Kami bagai melakoni drama pantomim, tanpa kata, hanya lewat mata. Butamtik tak jadi melompat, karena malu ketahuan sedang kuamati. Astaga, takdir macam apa ini ? Bagaimana bisa hal itu terjadi pada dua orang yang tak saling kenal seperti kami ?

Hari Senin, aku kembali menunggu bus di halte yang sama, pukul 06.30. Kuamati kerumunan pekerja yang sedang sibuk sendiri itu. Kulihat satu per satu wajahnya. Dan, aku tak menemukan Butamtik di sana. Ke mana dia ? Kenapa ia tak datang? Terlambat bangunkah? Atau malu bertemu denganku lagi ? Ya ampun, siapalah aku ini.

Hari ini, lima hari setelah pertemuanku dengan Butamtik, aku masih tak juga tau siapa dia. Sejauh ini, aku cuma tahu, dia selalu memakai jaket dan ransel berwarna abu-abu, tiba di halte pukul 06.30 pagi, naik bus, dan satu kantor denganku. Eh tunggu, benarkah dia satu kantor denganku? Aku tak pernah bertemu dia lagi sih, setelah terakhir kali melihatnya di masjid kantor waktu itu. Jangan-jangan dia hanya tamu yang kebetulan sedang mengunjungi kantor kami. Eh tapi, dia naik bus yang searah denganku kok. Aduh, kenapa aku penasaran begini sih?

Hmm hmm hmm

Hhhmmmmmmm

Bagaimana menurutmu?

 

 

 

Featured

Kisah Soto Betawi + Ruang Baca Kecintaankuh

Selain masakan rumah, saya punya makanan favorit yang baru. Namanya soto betawi. Saya mulai suka makanan ini sejak pindah ke Jakarta. Ya iyalah, dari dunia mana lagi soto betawi berasal?

Asli. Itu enak banget. Kuahnya tuh agak kental pake santan. Rasanya tuh asli sedep banget sih. Seger gitu loh. Gurih, tapi agak manis. Bikin nagih.

Saya tuh bukan tipe pemilih makanan. Hampir semua makanan bisa masuk perut tanpa harus mengalami pergolakan di lidah. Tapi ada makanan yang enak banget, di lidah saya, sampai bikin saya jadi pengen makan itu lagi dan lagi. Atau kalau bingung mau makan apa dan mager masak, saya biasanya beli makanan itu aja. Biar saya gak capek mikir. Biar saya puas sama apa yang saya makan. Dan soto betawi adalah salah satu makanan itu.

Kalau di daftar menu resto atau warung yang saya datangi punya menu soto betawi, pasti saya pesan ini. Sejak saat itu, tanpa sadar, saya punya kebiasaan, mencari soto betawi terenak.

Dan akhirnya ketemu. Aduuuuuhh senang sekali :* :*

Adalah The Reading Room, sebuah kafe yang berkonsep perpustakaan di bilangan Kemang, yang berhasil mencuri hati saya. Asli sih, saya harus mengucapkan terima kasih sama kokinya yang udah bikin saya amat menikmati setiap hidangan yang disajikan. Porsinya emang lumayan banyak, sesuai sama harganya yang emang agak di atas rata-rata. Saya bisa kenyang sekali kalau diminta menghabiskan porsi makanan nya sendirian. Makanya makannya pelan-pelan wkwk. Minumannya juga enak. Saya selalu jatuh cinta sama Earl Grey Tea nya. Emang dasar saya pecinta teh sih. Wkwk.

Oke balik ke soto betawi ala the reading room. Duh, ngebayanginya aja saya jadi pengen lagi.

Kuahnya sih beda. Enak banget. Asli. Mantap pokoknya. Warnanya agak kekuningan gitu. Saya emang ga terlalu suka makanan bersantan yang ga dikasih kunyit. Berasa aneh aja karena warnanya putih hehe.

Isiannya juga gak kalah komplit. Dan yang paling bikin saya terkesan, dagingnya dipotong dadu. Rapi banget. Ukurannya juga pas buat dimakan. Yang unik itu sambelnya. Kalo dicicipin alias digadoin gitu, rasanya tuh pedes. Ya namanya sambel wkwk. Tapi kalo dicampur sama soto betawinya, malah gak pedes. Bikin rasa rempah di sotonya jadi makin kuat. Asli enaaaaaakkk. Itu sambelnya tuh kayak ada campuran kacang tanah tumbuknya gitu loh. Waw waw.

Kalian harus coba.

Coba mulai makan soto betawi.

Coba mulai main ke the reading room, kemang. Hehe.

Fyi, tempat ini punya koki yang oke banget sih. Semua makanannya enak. Saya selalu puas sama rasa dan penyajiannya. Di sini juga punya koleksi buku yang banyak banget. Terutama buku berbahasa inggris. Ada buku-buku lama, buku-buku antik gitu juga ada. Bagus pokoknya. Tempat ini muterin musik, lagu dari band luar yang saya gak tau. Karena gak pernah dengar. Lagunya pop tapi lembut gitu. Biasanya musik seperti itu yang dijadikan teman sambil membaca buku. Kalau gak nyaman dengan musik, atau memang tak ingin mendengarnya, bisa makan di teras restoran. Wkwk. Tetep nyaman kok. Ada atapnya. Jangan takut kepanasan.

Udah ya segitu dulu.

Semoga ada manfaatnya. Muehehehe 🙂

Featured

Hati yang Berbeda

Dia, yang dulu kau cinta sebegitu menggebu-gebunya, apakah sekarang perasaan itu masih sama?

Dia, yang dulu kau jauhi karena bagimu beda, apa sekarang kau masih menjauhinya ?

Rasanya perasaan itu tak lagi sama.

Rasa cintamu, yang bahkan sanggup membuatmu menangis karena rindu, karena ingin bertemu, tak seperti dulu. Mengapa begitu ? Hanya kau yang tau, kawanku. Mungkin karena intensitas pertemuan kalian yang hampir nol. Mungkin karena keputusanmu yang ingin sendiri dulu. Mungkin…. karena ada orang yang baru.

Siapa yang tahu masa depan?

Hanya Allah saja.

Dulu, kau pernah menjauhi temanmu, karena menurutmu dia berubah. Di matamu, dia tak lagi sama. Di pikiranmu, dia bukan temanmu yang dulu. Dan kau tak suka itu. Lalu sekarang, saat kalian kembali bertukar sapa, tersenyum bersama, saling memberi hadiah, adakah inginmu menjauhinya lagi ?

Sebaiknya, lanjutkan saja pertemanan itu.

Kawanku, hati manusia bukanlah sebuah keabadian. Ia bisa berubah seiring bertumbuhnya manusia dan pengalaman yang dialami. Bukan tak mungkin dulu benci sekrang cinta, bukan tak mungkin dulu cinta sekarang benci. Hati manusia, tak bisa selamanya sama.

Jadi, membencilah sewajarnya saja. Mencintailah sewajarnya saja.

Namun harapku, semoga cintamu pada Tuhanmu, terus bertambah setiap detiknya.

Featured

Sang Pemburu Pagi

Ini kisah Sang Pemburu Pagi. Apakah namanya memang begitu? Tentu tidak. Itu adalah gelar yang kuberikan padanya. Bagus kan ? Kali ini aku ingin menceritakan kisahnya padamu. Untuk memudahkan penyebutan, mari kita panggil dia dengan Anak Pagi. Kepanjangan ? Tak apalah. Biar dia senang.

Anak Pagi adalah temanku. Dia tampak rapuh, tapi ternyata kuat sekali. Dia pemberani dan pantang menyerah. Dia akan berjuang untuk meraih apa yang dia mau. Adikku pun mengenalnya. Ketika kutanya bagaimana pendapatnya tentang Anak Pagi, ia bilang, “Orangnya qona’ah.” Aku tertawa.

Kenapa adikku bilang begitu ?

“Dosennya ribet, tapi dia sabar banget. Manut-manut aja disuruh gitu,” jawab adikku.

Aku tertawa lagi.

Bagiku, Anak Pagi adalah contoh orang yang terlalu baik hati. Temannya banyak. Sifat baiknya itu yang membuat banyak orang mau jadi temannya. Dia juga mudah sekali dimintai tolong. Hmm dia baik, ke semua orang. Dia baik, karena memang begitu orangnya.

Anak Pagi, temanku itu, juga sedang dalam proses memperbaiki diri. Kulihat, dia sedang berusaha memperbagus sholat Subuhnya. Dia ingin sholat tepat waktu. Dia tidak ingin kelewatan lagi.

Anak Pagi, bersemangatlah 🙂

Saat kau berjuang untuk menjadi sebaik-baik hamba, percayalah, Allah selalu bersamamu ❤

Featured

Sidang Skripsi dan Nasi Padang

Hello World 🙂

O God, it turns out I am very happy. The proof is I typed this while smiling, laughing, and grinning myself, hihihi, scary, bro? wkwk

Thank God, after going through a long process, after pushing for days, I finally went to the thesis trial too. Thank God, I finally passed the trial. Yes, God, very happy.

The trial was not that scary. Even statistical analysis methods that are used are not asked for details. Even though I was afraid to go down all the formulas. What the examiners asked was, in fact, many of the substance and writing. Apparently, the trial was like that. No need to worry more. Just do it.

But the original, when I got out of the courtroom, I just realized, I went to court.

I can’t eat if I’m worried.

When I came out, I didn’t think there were any kind-hearted people waiting. Oh my God, maybe there’s no time. The bouquet is quite a lot, it hasn’t been eaten until now. I remember one of the class’s classmates when giving me a present saying, “Isn’t my kadoku opened first?”

I grinned. I hold the gift. Wrapped in white wrapping paper with a striking big yellow ribbon. I don’t have any idea what it contains. But how strange is it like that?

After a photo session and venturing for quite a while, I finally returned to my beloved rented house. Because it was asked to open immediately, okay I open it at a time.

Do you know what’s in it?

Padang rice.

My eyes immediately lit up. Get treasure.

My stomach sounds again, wkwk. I went straight to the kitchen, took a plate and washed my hands. Turn to the guest room. And I ate it happily.

 

Sebenernya saya juga bingung. 
Tadi pas saya lagi enak-enaknya ngetik, mendadak teksnya berubah jadi bahasa Inggris. 
Itu ga saya edit sama sekali. Biarin aja, moga mudeng wkwk. Intinya saya  baru lulus sidang.
Makasih buat segala dukungan dan doanya, teman-teman :)
Makasih yang udah ngasih saya nasi padang. Kamu nyelametin saya yag udah kelaperan.
Allah yang membalas segala kebaikan <3

 

Featured

Dialog Hati.

Ini tentang seorang perempuan, yang senang berlari. Berlari, dalam arti sebenarnya. Ia pernah bercita-cita menjadi atlet, namun tidak terlalu ditekuninya. Sayang sekali. Padahal ia bisa lebih berusaha. Siapa tahu takdirnya memang jadi atlet ? Hmm, bisa jadi. Tapi ujung-ujungnya dia menjadi mahasiswa biasa. Terlalu biasa. Dengan hidup yang menurutnya kurang berwarna.

Ah, salah sendiri yang sudah memilih.

Ia merasa, tak terlalu mencintai apa yang dijalaninya selama ini. Bahkan, ia tak berfikir bagaimana masa depannya kelak dengan pilihannya sekarang.

Ya ampun, bagaimana itu bisa terjadi ?

Jika mesin waktu itu benar ada, sepertinya ia dengan senang hati kembali ke masa lalu dan mengubah sebagian kecil masa lalunya.

Siapa yang ingin ia salahkan ?

Tidak ada, kawanku. Ia sudah cukup dewasa untuk mengerti tentang arti konsekuensi.

Apa maksudnya ?

Ya konsekuensi. Akibat dari apa yang sudah kau pilih terhadap hidupmu.

Lalu bagaimana kabarnya sekarang ?

Ia sedang berusaha menyelesaikan apa yang sudah ia mulai.

Sulitkah ?

Hmm, sepertinya tidak terlalu. Itu semua tergantung persepsi dan kata hati. Kalo ia merasa sulit, maka sulit. Kalo ia optimis, kurasa semuanya akan lebih mudah.

Lalu apa yang akan ia lakukan selanjutnya ?

Ia akan menata hati. Ia akan mengatur hidupnya, masa depannya, seperti yang ia inginkan dan yang ia sanggup laksanakan. Ia akan berusaha lebih berbahagia. Optimis, bahwa ia bisa, dan semua akan baik-baik saja. Ia akan berusaha menyelesaikan semua urusan di dirinya yang belum selesai, berdamai dengan diri sendiri. Lebih menerima, lebih tenang, dan bersyukur.  Selanjutnya, ia akan mencoba lebih bermanfaat bagi orang lain.

Aku mendukungnya.

Aku juga.

Doakan kebaikan-kebaikan untuknya.

Akan kulakukan. Kuharap kau juga mendoakannya, kawanku.

Jangan berlari terus.

Maksudmu ?

Hadapilah. Jangan lari dari masalahmu. Kau lari, masalahmu diam. Kau kembali, masalahmu masih ada. Dia tak akan ke mana-mana.

…..

Maka hadapilah. Perjuangkanlah. Kerahkan semua kemampuanmu. Aku yakin kau sanggup.

Aku takut.

Hadapilah. Kau jangan kalah sebelum mencoba. Jika aku saja yakin akan kemampuanmu, bagaimana mungkin kau tak yakin pada dirimu sendiri?

Kau pasti bisa, kawanku. Sudah, jangan menceritakan orang lain terus. Urus dirimu sendiri.

Baiklah.

Bersemangatlah, jemput kebahagianmu.

Tentu saja.

Selamat berjuang, Tuhan bersamamu 🙂

 

Featured

Proud of You !

Kamu yang sekarang mampu berdiri tegak, punya segalanya, tidak kekurangan suatu hal, adalah kamu yang pernah mengalami saat-saat menyedihkan di masa lalu. Kamu yang sekarang sanggup berbahagia, adalah kamu yang dulu pernah menangis karena merasa tidak dicintai oleh dia yang penting bagimu. Kamu yang kini bisa berjuang untuk hidupmu, adalah kamu yang pernah dikecewakan, merasa tertekan, sedih, marah dan takut, serta hanya bisa menangis melalui semua itu. Kamu yang sekarang, hebat sekali !

Kamu hebat !

Kamu luar biasa !

Kamu spesial !

Kamu kuat sekali !

Rasanya kalo dinalar dengan pikiran manusia yang begitu pendek, tak mungkin bisa melewati semua itu, tak yakin bisa sanggup dan tahan menghadapi semua itu. Tak mungkin. Tapi saat kau meminta, Tuhanmu selalu ada. Tuhanmu mendengar doamu, pintamu, jeritmu, meski hanya dalam hati. Tuhanmu lebih dekat dari nadimu. Tuhanmu selalu bersamamu.

Apakah kamu masih punya rasa sakit akibat pengalaman di masa lalu ?

Dengan tulisan ini, ijinkan aku memelukmu. Aku senang seandainya bisa membantu.

Tak masalah jika kamu meminta bantuan profesional, seperti psikolog, psikiater, atau terapis untuk membantumu mengobati itu semua. Percayalah, meminta bantuan mereka, tidak berarti kamu gila. Kamu telah selangkah lebih maju, karena mau menyembuhkan luka lamamu. Aku tau, rasanya menjadi orang yang tak mudah menceritakan masalah ke orang lain. Oleh sebab itu, mintalah bantuan orang yang tepat. Beranikan dirimu. Aku percaya kawanku, kamu mampu melewati semua ini.

Kamu keren !

Kamu, adalah jiwa yang berhak berbahagia. Kamu bisa memilih untuk menjadi sedih, atau bersuka cita dan bersyukur atas apa yang kamu miliki saat ini. Maka pilihlah untuk berbahagia. Segala apa yang terjadi di masa lalu, ikhlaskanlah. Biarlah itu menjadi pengalaman hidupmu yang berharga. Karena tanpa itu semua, kamu tidak mungkin seperti sekarang.

Kamu hebat sekali !

Aku bangga padamu.

Dan kamu, harus bangga pada dirimu sendiri !

😀

 

Featured

We’re Growing Up.

Sekarang saya lagi kuliah semester 8. Berhubung lebaran ini saya pulang, saya menyempatkan diri ketemu teman-teman saya jaman sekolah dulu. Saya sendiri punya tiga orang sahabat dekat dari SMP sampai sekarang. Meski kuliah beda kota, kalo kebetulan lagi pada mudik, ya ngumpul dong. Teman-teman SMA saya juga kemarin main ke rumah pas lebaran. Saya liatin mukanya, tambah kece semua. Beberapa udah lulus sarjana. Beberapa lagi menyelesaikan skripsi kayak saya. Yang unik, kemarin saya dateng ke reuni teman-teman SD. Kebetulan saya SD nya di madrasah gitu. Ya Allah gusti, banyak yang udah nikah dan punya anak dong. Kemaren reunian malah bawa anak.

Umur saya berapa siih?

Ternyata hidup itu ajaib sekali ya. Masing-masing manusia bertumbuh dengan jalannya masing-masing. Mengikuti takdir yang sudah Allah gariskan dan sesuai dengan apa yang ia usahakan. Saya melihat teman-teman SD saya, ternyata sudah jauh berbeda dari saat kami kecil dulu. Beberapa orang malah saya lupa wajahnya. Kadang saya berbisik untuk bertanya sama temen saya, “itu siapa?” Dan gak cuma satu dua orang, tapi hampir setengah dari temen SD saya yang datang ke reunian, saya gak ingat ahaha. Mereka udah beda banget. Namanya juga udah 10 taun ga ketemu.

Kalo teman-teman SMA yang datang ke rumah sih, ga terlalu beda sama jaman sekolah dulu. Hmm maksudnya, sifat-sifatnya, kelakuannya. Terus gimana kondisi mereka sekarang tuh kayak nyambung banget sama mereka pas sekolah dulu. Saya ngebatin, “oke temen gue emang begitu.”

Masih soal pertemanan, hmm kalo temen jaman sekolah terus lama ga ketemu, ngerasa udah beda, ya wajar lah ya. Gimana kalo kita ngerasa bedanya itu sama temen yang satu kampus, yang semudah itu bisa ketemu atau bikin janji, lalu tau-tau karena udah beda jurusan atau peminatan, jadi lama ga main bareng terus pas ngobrol lagi setelah sekian lama, dianya udah beda pemikiran sama kita, dan akhirnya kita menyadari bahwa dia udah ga sama kayak dulu jaman masih jadi mahasiswa baru? Pernah ga?

Ah, saya mengalaminya !

MasyaAllah, lihat gimana manusia bisa semudah itu berubah pola pikirnya. Manusia bertumbuh, ga cuma badannya doang ke samping atau ke atas, tapi pikirannya juga. Seiring pengalaman yang dia punya, pelajaran dan hikmah yang dia dapet, siapa temannya, buku apa yang dia baca, semua itu memengaruhi pemikiran-pemikiran yang dihasilkan. Apalagi masa kuliah kayak sekarang. Saya sadar, saya dan temen-teman saya lagi mendewasakan diri, belajar jadi manusia yang bener. Kita semua gak mau punya banyak PR di masa depan, karena belum belajar banyak hal di masa sekarang. Jadi, dalam masa transisi ini, banyaklah belajar hal baik, selesaikan permasalahan di masa lalu yang belum tuntas, dan melangkahlah ke depan. Yakinkan dirimu sendiri, kamu adalah orang baik, dan akan selalu berusaha menjadi baik.

Semangat ya!

You can do it. Hahaha 😀

Jangan lupa minta ditemani sama Allah dalam setiap langkahmu. Semoga Allah selalu menjagamu. Aamiin.

 

NB. Mohon doanya buat seminar dan sidang skripsi saya ya. Tolong doakan segala prosesnya lancar, dan bisa wisuda tahun ini. Aamiin.

 

 

 

Featured

Bukan Jodoh.

Bukan soal jodoh, yang sekarang memenuhi kepalaku. Tapi perkara kelulusanku, seminar, sidang skripsi, dan ujian akhir semester. Aku mampu melewati semua ini, dengan kekuatan dari Tuhanku. Juga dukungan dari teman-temanku, orang tuaku, dosen pembimbingku, adikku, dan orang-orang baik hati yang mau mendoakanku dengan tulus. Terima kasih, sungguh kebaikan-kebaikan itu kelak akan kembali pada yang melakukan. Bagaimana caranya ? Entah, Tuhanlah yang mengaturnya. Bisa jadi datangnya dari arah yang tak pernah kau sangka. Bisa jadi semua karunia yang kau dapat sekarang adalah buah dari kebaikan yang kau lakukan di masa lalu. Atau doa orang-orang yang menyayangimu, yang menginginkan rezeki, rahmat, kemudahan urusan dan kasih sayang Tuhan untukmu.

Maka pintaku, tolong doakan aku, dan teman-teman seangkatanku untuk bersama diwisuda tahun ini. Doakan juga kebaikan, rezeki, rahmat, kemudahan urusan dan kasih sayang Tuhan untuk kami. Semoga doa-doa itu kembali pada yang mendoakan, dengan sebaik-baik balasan.

Terima kasih.

Featured

Lebaran 2018 (1439H)

Lebaran ini adalah kali kedua saya pulang dalam empat tahun terakhir. Begitu banyak yang saya rasakan, sampai saya bingung dari mana harus mulai bercerita.

Saya senang bisa pulang, melihat rumah saya. Saya terheran melihat kota kelahiran saya sudah banyak berubah. Ada beberapa hotel baru dibangun. Ada reklamasi teluk. Ada cafe-cafe baru, membuat gaya hidup kaum muda jadi suka nongkrong di cafe, mengurangi kebiasaan lama saling mengunjungi rumah. Ada banyak ikan raksasa seharga seratus ribu per ekornya di pasar ikan. Ada semakin banyak lembaga dakwah dan kajian, bahkan yang menurut saya dulu rasanya sulit menyentuh kota saya. Teman-teman saya—yang hampir semuanya perempuan, dan masih tinggal di kota kami, tidak belajar di kota lain—menjadi semakin syar’i. Beberapa ada yang menutup cantiknya. Saya iri. Saya masih begini-begini saja.

Rasanya saya sudah jauh tertinggal.

Saya kira dengan belajar di kota lain, saya bisa lebih berkembang. Ternyata kota saya juga jauh melesat ketika saya pergi. Saking jarangnya pulang, saya tidak paham kabar kota sendiri. Kota saya sudah berbeda, tak sama seperti dulu, ketika saya di sini.

Kota ini memang surga. Semua fasilitas untuk menyejahterakan dan membahagiakan penduduknya tersedia. Di sini nyaris tak ada orang miskin, kecuali mereka yang malas berusaha. Betapa baiknya Tuhan atas kota ini. Kami dijaga, diberi rizki, dimudahkan urusannya, dihindarkan dari kemacetan. Setelah beberapa tahun hidup di kota besar, saya merasa kota saya cantik sekali. Ke mana-mana lancar, jalanan longgar, udaranya segar, airnya bersih, tidak ada yang kurang. Bagaimana saya tidak bersyukur?

Yang tak berubah, kamar saya masih menjadi tempat yang paling nyaman. Tempat saya memikirkan banyak hal, termasuk mengetik ini. Tempat saya istirahat, dari kecil sampai sekarang.

Tapi yang pasti, saya juga rindu kota tempat saya belajar. Saya ingin kembali duduk di perpustakaan sekolah sampai sore dan menyelesaikan tugas akhir seperti biasanya. Saya rindu membaca buku tebal untuk referensi kajian pustaka. Saya harus semangat, saya ingin segera lulus sekolah.

Saya juga mau lihat teman saya. Saya pernah berpikir, bagaimana jika seandainya teman saya datang berkunjung ke rumah ketika lebaran. Atau saat tak lebaran juga tak papa, yang penting main ke rumah. Saya mau lihat teman saya. Tahun lalu teman saya masih bilang selamat hari raya ke saya, tahun ini tidak. Saya mau dikirimi ucapan selamat hari raya sama teman saya, biar saya senang.

Kemarin saya berkunjung ke rumah beberapa guru saya. Ada yang berhasil didatangi, ada yang tidak. Saya sedikit kecewa tidak bertemu guru saya. Saya rindu. Saya mau dengar guru-guru saya bicara. Entah mengapa setiap kata yang keluar mengandung nasihat. Enak sekali terdengar di telinga. Seorang guru adalah paket lengkap, pengetahuan dan akhlak yang baik. Itu yang dibutuhkan untuk menjadi manusia berbudi.

Begitulah cerita lebaran saya.

Oiya, rumah kami menyediakan bakso, wedang jahe, tape ketan, dan jenang madumongso ketika lebaran. Semuanya dibuat sendiri. Kalau ada yang lain berarti beli. Jika mau nyicip, datanglah ke rumah kami.

 

Featured

Jumat, 18 Mei 2018

Hari ini rasanya panjang sekali. Aku memulai pagi dengan kondisi tidak begitu baik. Lalu sang fajar datang, dan makan minum berhentilah. Aku meninggalkan rumah saat mentari naik sepenggalah. Dimulai dari yang dekat, lalu sedang, lalu jauh. Begitu Tuhan memperjalankan aku. Entah aku tak tahu rencanaNya, seringkali aku diperjalankan di waktu Jumat. Bukankah itu hari yang istimewa? Iya, tentu. Tapi rasanya itu cukup berat bagiku, seorang hamba yang bahkan tak mampu mengurus diri sendiri walau sekejap mata. Aku ada karenaNya, aku berdiri karenaNya, aku sanggup berlari karenaNya. Semoga aku diampuniNya.

Lalu aku dikasih tau. Masa ini, bukan cuma berat buatku. Tapi bagi teman sekelasku, mantan teman sekelasku, teman sedaerahku, teman yang katanya mirip aku, teman seangkatanku. Rasanya ingin kupeluk mereka satu per satu. Lalu aku tanya, ada apa? Bisa kubantu?

Ini tidak mudah sama sekali.

Yang aku tau, Tuhanku Mahabaik.

Dan kejutan kecil itu… Ternyata aku sebegitu sukanya. Bahkan dari belakang pun sudah bisa kukenali. Ternyata sudah lama ini terjadi. Aku tak mungkin salah menebaknya lagi. Yang sedang bersujud, bersama yang lainnya. Yang sedang berdzikir mengingat Sang Pencipta. Aku mana bisa lupa. Sungguh lemahnya aku, melihatnya saja aku tak mampu. Segera aku berpaling, menunggu temanku yang lain.

Setelah itu aku pulang. Di perjalanan, aku kembali mendapat kejutan. Sepertinya sudah sebulan tak bersua. Yang dirasa asing, bisa jadi jaraknya malah dekat sekali. Tapi mungkin belum saatnya aku kenal.

Terbukti, aku tak sanggup sendiri. Bahkan untuk berbagi cerita, rasanya itu sebuah kebutuhan. Untuk saling menguatkan. Karena manusia itu sesungguhnya rapuh.

Untuk yang membaca ini, semoga harimu baik-baik saja. Semoga makin banyak pintu-pintu bercahaya terbuka untukmu. Semoga dimudahkan urusanmu. Itu doaku selalu.

🙂

 

Featured

Tentang Mengabadi

Salah satu sifat Allah adalah kekal. Tidak ada lagi yang bersifat seperti itu di seluruh jagat raya. Semua makhluk akan mati. Bumi yang indah dengan pantai dan mataharinya akan diganti dengan Bumi yang lain. Bahkan gunung yang tegak dan kokoh, akan beterbangan bagai kapas. Langit yang selama ini menaungi kita akan runtuh. Tidak ada yang abadi di dunia ini, begitu Allah menjelaskan di banyak surat tentang kiamat.

Saya pernah ditanya gini di ask.fm. How would you like to be remembered ? Saya lupa ini pertanyaan mesin atau pertanyaan anonim. Terus saya jawab gini. Sebagai penulis. Jadi tulisannya abadi selamanyaaa.

Hehe

Padahal nulis buku satu aja belom.

Abraham Maslow (1943) dengan teori hierarki kebutuhannya yang terkenal itu bilang, urutan keempat dari kebutuhan manusia adalah penghargaan, dilanjutkan dengan kebutuhan aktualisasi diri di urutan kelima. Saya masih belum bisa menyimpulkan keinginan ingin dikenang itu masuk kategori yang mana. Yang pasti, salah satu kemauan orang yang masih hidup adalah terus diingat oleh orang-orang setelah ia meninggal.

Ah, manusia.

Mungkin kita perlu diingatkan lagi bahwa salah satu sifat alami manusia adalah mudah melupakan.

Saat kita meninggal, mungkin keluarga, teman, kerabat, dan orang-orang yang mengenal kita akan sedih. Namun itu tak lama. Bisa jadi sebulan setelahnya hidup sudah kembali seperti semula. Kesedihan itu akan hilang perlahan, seiring makin banyaknya urusan. Pelan-pelan, kita akan dilupakan.

Mungkin sekali dua kita masih dibicarakan. Keluarga sebagai orang terdekat akan mengenang kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan. Sahabat kita ? Bisa jadi sama. Lalu teman kita yang lain, orang-orang yang tidak terlalu akrab, mungkin sudah lupa. Mereka hanya ingat, kita sudah tiada.

Begitulah dunia ini berjalan.

Jadi, apakah ada keabadian bagi manusia ?

Kata Rasulullah, saat manusia meninggal, semua amalannya terputus kecuali 3 hal, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang selalu mendoakannya. Contoh sedekah jariyah adalah membangun masjid, menggali sumur, dan mewakafkan sesuatu seperti tanah atau gedung untuk kepentingan orang banyak. Ilmu yang bermanfaat, misalnya kita ngajarin suatu ilmu ke orang lain, atau nulis buku, yang masih terus digunakan dan dipelajari setelah kita meninggal. Dan anak shalih dapat menjadi sebab bagi orang tuanya untuk mendapat pahala yang tidak terputus.

Indah banget kan ajaran Rasulullah. Kita dapat mengabadi, dengan memberi manfaat bagi orang lain. Kebaikan itu akan mengalir meski kita sudah mati. Manusia akan lupa dengan apa yang kita lakukan, tapi catatan Allah tak kenal kadaluarsa. Catatan kebaikan kita akan awet, sampai hari perhitungan tiba.

Kesimpulannya, banyak-banyaklah beramal shalih, terutama 3 hal tadi.

Semoga sehat terus, kawanku ♥

 

 

Featured

Wanita-Wanita Surga

Baru-baru ini, teman saya berpulang. Saya lumayan kaget, karena beliau baru saja lulus kuliah dan mulai bekerja. Yang saya ingat, orangnya baik, senyum terus, gak pernah ngeluh. Setahu saya, beliau belum menikah. Duh, baik banget orangnya. Tipikal anak sayang keluarga gitu.

Ternyata, menurut Allah, usianya cukup segini di dunia.

Saya jadi mengingat kembali deretan wanita-wanita shalihah dalam sejarah. Asiyah, sang permaisuri, ratu kerajaan Mesir, adalah istri dari Fir’aun. Beliau adalah ibu angkat Nabi Musa. Konon, sang ratu berparas cantik dan berbudi baik. Wajar saja kan, jika suaminya begitu mencintainya. Atas kasih sayang Allah, Asiyah beriman pada agama tauhid. Tapi suaminya enggak. Suaminya malah jadi orang yang paling membenci Nabi Musa dan pengikutnya. Akhirnya, Fir’aun tenggelam di Laut Merah. Konon, muminya masih ada sampai sekarang.

Contoh lainnya adalah Maryam binti Imran, ibunya Nabi Isa ‘alaihissalam. Maryam adalah wanita shalihah. Ia dikisahkan selalu beribadah pada Allah di rumahnya. Allah sayang padanya, sehingga Maryam sering diberi makanan dari surga. Maryam wanita suci. Ia adalah perawan yang belum pernah tersentuh oleh lelaki manapun. Allah manakdirkan ia untuk mengandung bayi. Bagaimana mungkin seorang wanita yang belum menikah hamil ? Itulah kehendak Allah. Akhirnya Maryam mengasingkan diri. Ia melahirkan bayinya di bawah pohon kurma. Bayi itu adalah Isa, yang kelak bisa berbicara walau masih dalam buaian, menjawab tudingan menyakitkan orang-orang terhadap ibunya. Bayi itu adalah Isa, yang kelak menjadi Nabi Allah. Maryam, namanya diabadikan sebagai salah satu nama surat dalam Al Quran. Surat yang sering dipake buat ngetes bacaan Quran dari calon santri, hehe.

Terus ada lagi ‘Aisyah, radhiallahu’anha. Beliau adalah istri Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Aisyah wanita yang cerdas, banyak hadits yang bisa dipelajari dari beliau. Beliau patuh pada suami dan orang tuanya. Beliau menjaga kesuciannya, sampai diabadikan sama Allah di surat An Nur. Saya lumayan ngefans sama ‘Aisyah, karena beliau pinter. ‘Aisyah dan Rasulullah ditakdirkan tidak dikaruniai anak.

Nah saya jadi merenungkan lagi nih apa yang selama ini jadi cita-cita gadis di seluruh dunia. Semua gadis rata-rata ingin menikah dan punya anak. Padahal wanita hebat dalam sejarah pun, ditakdirkan Allah belum tentu mendapatkannya. Asiyah, istri Fir’aun, beliau punya suami, tapi zalim. Maryam, sang shalihah, tidak punya suami, tapi dari rahimnya lahir Nabi Isa yang mulia. ‘Aisyah, istri Rasulullah, tidak punya anak hingga Rasulullah meninggal.

Saya jadi mikir. Yang perlu dilakukan muslimah yang belum menikah adalah menjadi shalihah. Baik sama orang tua, rajin menuntut ilmu, memperbaiki akhlak, dan menjadi hamba Allah yang sebaik-baiknya. Jika kelak Allah menakdirkan kita menikah dan punya anak, itu bonus dari Allah, karena kita sudah berusaha taat.

Akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa jodoh itu sama aja dengan keinginan kita yang lain. Jika sudah cukup umur dan merasa siap nikah, yang namanya jodoh, harus diusahakan. Bisa aja sih tiba-tiba datang sendiri, tapi kan peluang ketemunya bakal lebih besar kalo dicari.

Semangat untuk menjadi shalihah ya, kawan. Kita tidak tahu kapan Allah panggil pulang. Yuk, siapkan bekal untuk perjalanan akhirat semaksimal mungkin. Ingat, Allah sayang sama kita.

 

 

 

 

Featured

Untukmu yang Selalu Optimis

Sayangku,

Aku masih menyimpan kenangan tentangmu di otakku. Hari itu, kala matahari naik sepenggalah, aku duduk berdampingan denganmu di sebuah ruang kelas. Entah apa yang kita obrolkan, aku tidak ingat. Mungkin basa-basi belaka. Yang kutahu kamu tak berhenti tersenyum, selalu memandang dari sisi terbaik. Husnudzon. Ah kamu. Terima kasih sudah mengajariku untuk sabar.

Sayangku,

Kamu manis sekali. Bakti pada orang tuamu, patuh dan sangat mencintai mereka. Bagaimana bisa kamu begitu? Di saat aku bahkan tak pandai menunjukkan kasih sayang, kamu dengan mudahnya ajari aku, jadilah wanita yang penyayang. Dan dalam urutan manusia, keluarga yang harus disayangi lebih dulu. Mereka nomor satu.

Sayangku,

Aku bangga padamu. Akhirnya impianmu bertamu ke rumah Allah terwujud juga. Alhamdulillah, manusia baik sepertimu memang pantas mendapatkannya. MasyaAllah, baiknya Allah padamu. Sayangku, semoga ibadahmu berkah.

Sayangku,

Terima kasih sudah menjadi manusia yang santun, cantik, baik hati. Terima kasih sudah berjuang untuk negeri ini hingga di saat terakhirmu. Terima kasih, sudah bersikap baik padaku. Terima kasih, sudah menjadi teman kami semua. Terima kasih, Zeini Afifah.

 

 

 

Untuk Bidadari yang Selalu Optimis, senyummu tidak terganti. Semoga kebaikan-kebaikan selalu menyertaimu sampai surgaNya. Aamiin.

Featured

Teflon Ibuk

Waktu saya pindah kontrakan sekitar 6 bulan yang lalu, Ibuk saya datang berkunjung, sekalian ngabisin libur akhir tahun di Jakarta. Alhamdulillah gak terlalu banyak hal yang dikomentari sama Ibuk terkait rumah yang saya tempati. Ya iyalah, orang sebelum beliau dateng saya sudah rempong masak dan bersih-bersih. Yang namanya ibuk-ibuk pasti akan selalu memastikan anaknya berada dalam kondisi terbaik. Salah satunya, dengan melarang saya memakai kompor gas dan mengizinkan membeli kompor listrik yang cara makenya tinggal dicolok ke stop kontak. Katanya takut meledak.

Ternyata ada satu hal yang beliau gak sreg.

“Mbak, wajanmu kok gini ?” kata Ibuk, sambil mengamati teflon saya yang beli di Al**mi**.

“Kenapa Buk?”

“Tipis banget,” katanya, “berapa harganya waktu beli?”

“Sekitar 70 ribuan dapet 2, yang satu ukuran sedang, yang satu kecil,” jawab saya, enteng.

“Hah ? Teflon apaan tuh harganya segitu ?”

“Maksudnya ?” saya gak paham.

“Mem Cici aja beli teflon sekitar 400 ribu, Mbak,” kata Ibuk. “Yang bagus dan asli harganya segitu.”

Saya kaget. Mahal juga ya alat masak doang. Pantesan kalo di rumah liat homeshopping di tv suka bingung. Panci aja ratusan ribu. Wow.

Saya ngeliatin Ibuk yang masih mengamati peralatan masak dan makan saya. Berhubung saya cuma anak kos, masih mahasiswi pula, saya gak gitu paham masalah perdapuran. Masak juga baru rajin setahun belakangan.

“Besok kita beli teflon yang bagus. Dimana belinya kalo di Jakarta ?” Kalo Ibuk sudah bertitah tak ada yang bisa membantah.

“Carrefour aja Buk,” kata saya.

Besoknya saya dan Ibuk ke Carrefour Kramat Jati demi satu tujuan mulia, beli teflon. Yang bagus, yang asli, hehe. Sesampainya di sana, kami langsung ke gerai alat masak. Koleksinya lumayan lengkap dengan ukuran yang bervariasi, dari yang gede banget sampai yang imut-imut buat masak mie instan ala drama korea juga ada. Ibuk saya seneng banget ke Carrefour. Di rumah gak ada toko sebesar itu. Akhirnya setelah melihat, mengamati, menimbang kelebihan dan kekurangannya, Ibuk memutuskan beli teflon berdiameter 26 cm, pake tutup, terus bagian bawahnya ada besi magnetiknya gitu supaya bisa dipake masak di kompor listrik. Warnanya orange. Bagus banget, ngeliatnya aja saya seneng alhamdulillah 🙂

Pulang dari Carrefour, kami mampir beli donat dulu. Emang ya, kalo ada Ibuk, segalanya ada, lebih malah 😀

Teflon sebesar itu bisa dipake masak apa aja. Mulai dari menumis kangkung, ngerebus ayam, bikin sop jagung, goreng tempe, bikin mie telur kuah, bikin puding, pokoknya macem-macem deh. Selama di kontrakan, Ibuk rajin banget masak, seneng karena teflonnya bagus, hahaha.

Tapi 6 bulan kemudian, sesuatu terjadi saudara-saudara.

Kejadiannya beberapa hari yang lalu. Saya lagi di kamar atas. Dari bawah adek saya teriak, “Mbak berangkat ya,” dia mau ngampus. Seperti biasa, saya bergegas turun, nganterin dia pergi sampe pintu depan, terus dadah-dadah, wkwk.

Ternyata saya jalan kurang hati-hati. Saya gak sengaja nyenggol teflon Ibuk. Teflon itu jatuh, tutupnya lepas dari pancinya, menimbulkan suara yang berisik dan mengagetkan. Adek saya yang lagi pakai kaos kaki langsung ke dapur. Saya angkat teflonnya dari lantai. Ternyata pegangan tutupnya patah. Hiks.

Tutup teflonnya terbuat dari kaca. Nah pegangannya itu kan ada sekrupnya gitu biar nyambung sama kaca. Karena jatuh, pegangannya yang atas itu patah. Sekrupnya mah baik-baik aja.

Saya ngeliatin teflon itu sama adik saya, kebayang harganya yang gak murah. Ada rasa penyesalan di hati, kenapa jalannya buru-buru, gak hati-hati. Tapi mau gimana lagi, udah kadung terjadi.

Akhirnya, saya mutusin beli tutup teflon. Meski saya ragu juga sih, ada yang jual tutupnya doang gak ya, hehe. Hari Kamis, setelah UTS Adminstrasi Perkantoran, saya ke Carrefour. Pas saya nyampe sana, ternyata mereka gak jual tutup teflon. Aduh, sedih hayati. Eh, tapi bener-bener deh ya, puasa beneran tinggal sebentar lagi, gaes. Di Carrefour sirup sama kue-kue kaleng udah numpuk gitu dong, baju koko sama sarung juga udah dipajang. Haha salfok 😀

Saya akhirnya ke pasar Kramat Jati. Saya nanya ke salah satu penjual, “Pak, jual tutup panci gak ?”

“Adanya sama pancinya, Neng.”

“Yang ukuran itu berapa, Pak?” saya menunjuk panci yang ukurannya kira-kira sama kayak teflon Ibuk.

“65, Neng.”

Mahal, saya membatin.

“Gak jual tutupnya aja, Pak ?” saya memastikan lagi.

“Ke sebelah coba, Neng,” muka bapaknya kayak sebel gitu. Ya iyalah, masa beli panci tapi tutupnya doang, wkwk.

Saya berjalan ke beberapa kios peralatan rumah tangga, dan gak ada yang jual tutup panci doang. Adanya yang sepaket sama pancinya. Saya pikir, ngapain saya beli panci baru kalo yang saya butuhkan cuma tutupnya? Akhirnya, siang itu saya pulang tanpa tutup panci.

Sampai rumah, saya baru kepikiran ngecek online shop. Ya ampun kenapa ga dari tadi sih ? Wkwk

Saya googling dan nemu tutup panci dijual di Bukalapak. Harganya 43 ribu, bahannya kaca, sama kayak tutup teflon saya yang rusak. Akhirnya saya beli itu. Alhamdulillah ya Allah.

Jadi teman teman, jangan sekali-kali ngerusakin peralatan masak punya ibuk, nanti repot kayak saya. Jangan dirusak, apalagi dihilangin. Kalo tupperware punya ibuk hilang, beh bakal lama tuh kita dinasehati ga berhenti-berhenti. WKWK

Semoga ibuk saya ga sadar kalo tutup teflonnya beda, kalo main ke kontrakan saya lagi. Aamiin 🙂

 

Featured

Galau (1)

Kemarin hari Jumat. Hari favorit saya dalam seminggu. Kenapa ? Soalnya besok libur, haha. Soalnya hari Jumat biasanya pulang cepet. Soalnya hari Jumat biasanya jarang kuliah. Soalnya hari Jumat istimewa. Kaum muslimin dianjurkan baca al Kahfi supaya bercahaya sampai Jumat depan. Lalu Jumat depannya baca al Kahfi lagi. Jadilah kaum muslimin bercahaya terus-menerus. Banyak berdoa juga sangat dianjurkan, terutama sesudah shalat Ashar. Baik sekali kan Tuhan itu ? Kita tinggal datang padaNya, terus meminta. Dengan rahmatNya, diberikan semua yang kita butuhkan. Lalu mengapa masih enggan mendekat padaNya ?

Hari itu, pagi-pagi, saat matahari naik sepenggalah, saya mengamati sekumpulan gadis-gadis menyesaki ruangan yang tidak begitu luas. Mereka berdiskusi, tentang apa pentingnya manusia di Bumi. Mungkin mereka sudah pernah membacanya, di Ali Imran : 104, tentang segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang munkar. Kata Tuhan, mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Sungguh masih terbatas ilmu dan pemahaman manusia.

Sebenarnya apa maksud Tuhan menurunkan ayat itu ?

Apakah kita diminta untuk berdakwah pada manusia lainnya ? Namun bukankah zaman ini berbeda jauh dengan zaman Nabi dulu ? Sanggupkah kita, untuk menyelamatkan diri ? Sanggupkah kita, menyelamatkan diri dan menyelamatkan orang lain ?

Dunia ini sungguh melenakan ya Tuhan. Penjara bagi orang-orang yang beriman. Mereka yang sadar akan hal itu tak akan sanggup menghadapi gemerlapnya.

 

 

…… To Be Continued~

 

 

Featured

Perlukah Naksir Diceritakan ?

Assalamu’alaikum.

Gatau ya kenapa hari ini saya kangen banget sama blog ini. Saking lamanya berkutat dengan skripsi, saya jadi enggan nge-blog. Saya jadi worry dan gelisah sendiri, ngegalauin skripsi saya yang belum selesai ditulis. Padahal kan, semua ada jatahnya. Buat nyekrip, buat nge-blog, sebenernya dua-duanya bisa dikerjakan. Cuma, ya gitulah.

Dua hari lalu saya baru kelar bimbingan bab 2. Alhamdulillah, meski tetep ada revisi, saya senang bisa nulis bab 2. Buat saya, itu gak mudah sama sekali. Saya harus membaca banyak, kalo enggak, saya ga tau mau nulis apa. Skripsi adalah bukti bahwa ilmu saya masih dikiiiiiiit banget. Jadi kudu banyak belajar lagi. Belajar hal baru, dan mengulang apa yang sudah pernah saya pelajari.

Kamarin di sela-sela sesi tanya jawab presentasi kelompok, temen saya usil nanya gini. “Da, kamu suka si anu kan ?”

Saya sebel karena dia sebelumnya sudah berkali-kali nanya begitu. “Enggak.”

“Halah, iya kan?” kata dia, nyebelin, “kayaknya kamu suka deh.”

“Ya ampun enggak. Kamu udah nanya itu berapa kali sih ?”

“Tapi kamu tuh kayaknya suka.”

Saya bete ditanya terus. “Enggak.”

Menurut saya nih, nanya orang suka sama orang lain atau enggak itu ibaratnya kayak ngomentarin baju orang or make up orang. Itu bukan hal yang sebaiknya dilakukan sih, kecuali yang bersangkutan dengan sukarela cerita kisah cintanya sama kita. Hal-hal kayak gitu sangat personal, jadi gak usah usil. Lagian emang kenapa sih kalo ternyata saya misalnya beneran suka ? Terus kalo saya gak suka kenapa? Kan gak berdampak apa-apa sama hidup temen saya tadi.

Kadang saya mikir, kenapa ya, Allah menakdirkan para remaja puber mulai suka lawan jenis? Kanapa mulai suka lawan jenisnya gak pas nikah aja gitu, hehe. Ini masih menjadi rahasia besar yang belum saya pahami. Yang pasti kalo sukanya pas habis nikah, ga akan ada manusia yang berzina di dunia ini, dan hukum tentang zina juga tidak ada.

Makin tua, saya akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa, kalo naksir orang ga usah diceritain. Apalagi kalo diceritain ke beberapa orang sekaligus, potensi bocornya itu besar sekali. Lagian nih, semakin diomongin, yang ada malah makin baper.

Kamu lagi tertarik sama orang. Yaudah. Terus kenapa ?

Sesimpel itu.

Pas kita sadar ternyata kita lagi naksir, kita punya dua pilihan. Kalo emang kondisinya memungkinkan, dan siap nikah, dan kita yakin sama dia, yaudah diproses aja. Tapi kalo kitanya belum mampu, terus naksir, mending disimpen dulu. Gak usah diceritakan ke mana-mana. Kalo ga kuat nyimpen sendiri gimana ? Cerita ke Allah. Minta biar hatimu dikuatkan.

Contoh yang nyata adalah Fatimah dan Ali. Saya mikir, pas tau kisah mereka, kok kuat banget ya ? Kok bisa segitu malunya dan gak cerita ke siapa-siapa ? Salut banget ♥

Inget ya, Mblo. Kalo dia jodohmu, dia pasti akhirnya sama kamu. Kan jodoh kita tuh sebenernya udah ada, cuma ya belum dikasih tau aja sama Allah siapa orangnya.

Semangat, ya.

Featured

Tentang Puisi Tausiyah Cinta

Sebagai seorang pecinta puisi yang gak terlalu suka bikin puisi, saya senang membaca kata-kata cantik bermakna dalam. Pikir saya, ya Allah keren banget penulisnya bisa buat kata-kata seindah itu. Beberapa hari lalu, pas nge-scroll galeri hape dan melihat foto-foto lama, saya menemukan skrinsyut-an dari instagram, tepatnya dari akun @saridezra, komikus itu. Beliau menggambar poster film Tausiyah Cinta, terus dikasih teks yang terkenal banget dari film ini.

Terkadang mata ini iri kepada hati, karena kau ada di hatiku namun tak tampak di mataku.

Sebenernya kata-kata ini konteksnya general sih. Menurut saya, itu bisa bermakna kerinduan sama seseorang atau sesuatu, tapi belum bisa ketemu secara langsung. Kan rindu bisa sama ibuk, bapak, adek, nenek, bude, teman, tetangga, dan lain-lain. Gak musti rindu pengen ketemu jodoh kan ? HAHA.

Saya sendiri gak baca bukunya, tapi sempat nonton film-nya. Dan menurut saya sih, di film, garis besarnya tidak bertemakan cinta, namun pencarian arah hidup dari seorang manusia, bahwa pada akhirnya semua kembali pada Allah muaranya.

Karena penasaran, akhirnya saya googling dan nemu versi yang lebih panjang dari puisi ini. Bagi saya, ini tuh agak chessy-geli-gimana-gitu, terutama buat bagian akhir puisinya sih. Maaf deh, kalo saya ga romantis, hehe. Tapi bagus kok, puisinya. (sumber)

Senyumku pun mengembang.
Aku tak dapat berpatah kata ketika sebuah gumam terlontar dari seorang kawan.
Gemuruh hati berdegup kencang, seolah ia terluka dalam.

Mereka ucap, aku tak berperasaan karena mengabaikan kasih seseorang.
Mereka ucap, aku pemilah yang mencari kesempurnaan.
Mereka ucap, kasihku tak bisa di harapkan.

Berdosakah...
Ketika kutolak cinta yang tak bertepi tanggung jawab?
Salahkah...
Jika ku coba untuk taat?
Munafikkah...
Jika ku semai rasa yang tak semestinya?

Sungguh..
Hati ini tertutup oleh Dia yang Maha segala.
Kekasih yang tak pernah hamparkan dusta.
Kekasih yang tak pernah bersitkan luka.
Sanggupkah aku abaikan cinta Sang Penguasa?

Tak mengapa...
Penilaian manusia terhadapku, kuanggap pemanis sandiwara.
Yang takkan kuanggap sebagai kisah sia-sia.

Karena...
Cukuplah rasa cinta dari Tuhanku
Yang hidupkan jiwa sarat makna.
Hadapi dunia penuh ceria, berikanku cerita istimewa.
Berikan ketenangan di tengah kegundahan.
Ajarkanku selalu tentang arti kehidupan.
Kurasa itulah cinta.
Cinta yang tumbuhkan sesak rindu, namun enggan berhenti menunggu.
Cinta yang kadang sulit tuk dimengerti, namun selalu terpatri dalam hati
Sungguh takkan pernah kusesali.
Sejatinya, inilah cinta yang hakiki.

Bagaimana caranya menjelaskan rindu kepada seseorang yang entah siapa dan dimana saat ini.
Untukmu yang jauh disana, 
Terkadang mata ini iri kepada hati, 
Karena kau ada di hatiku namun tak tampak di mataku.

Aku tidak memiliki alasan pasti mengapa sampai saat ini masih ingin menunggumu, 
Meski kau tak pernah meminta untuk ditunggu dan diharapkan.
Hati ini meyakini bahwa kau ada, meski entah di belahan bumi mana.
Yang aku tahu, kelak aku akan menyempurnakan hidupku denganmu, di sini, di sisiku.
Maka, saat hatiku telah mengenal fitrahnya, aku akan berusaha mencintaimu dengan cara yang di cintaiNya.
Sekalipun kita belum pernah bertemu, mungkin saat ini kita tengah melihat langit yang sama,
Tersenyum menatap rembulan yang sama.
Di sanalah, tatapanmu dan tatapanku bertemu.
Featured

Kata Umar yang Menginspirasiku

Dia Umar. Lelaki yang hebat, kuat, dan perkasa. Dia Singa Padang Pasir. Hampir semua penduduk Mekkah segan padanya. Lelaki yang mulanya sangat membenci Sang Pembawa Risalah, bahkan hendak membunuhnya. Lelaki yang beruntung, Allah memilihnya, mengaruniakan hidayah di hatinya yang keras. Lelaki yang berubah, menjadi jauh lebih lembut, dengan Islam di hatinya, menyatu di jiwa raganya. Dia Umar bin Al Khattab, lelaki yang pada akhirnya menjadi sahabat Nabi, yang teguh membela Nabi, yang akhirnya menjadi salah satu Khulafaurrasyidin, dan salah satu sahabat yang dijamin masuk surga.

Dia Umar, idolaku, sejak aku belajar sejarah kebudayaan Islam di madrasah ibtidaiyah, hingga kini.

Umar pernah bilang,

“Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku.”

Dari kata-katanya aku tahu, bawa yang mengucap begitu bukan orang sembarangan. Itu adalah kata-kata dengan kekuatan iman yang besar, yang percaya sepenuhnya pada ketetapan Tuhan yang sudah digariskan untuknya. Orang yang begitu yakin, yang teguh, yang begitu patuh dan percaya pada Tuhan yang Maha Kuasa. Tuhan yang menatapkan takdir untuk semua manusia, yang sudah tertulis, dalam kitab yang agung, Lauhul Mahfudz.

Kata-kata itu, adalah ungkapan kepasrahan dari seorang hamba. Bahwa bagaimana pun kerasnya sebuah usaha, jika memang apa yang diharapkan itu tidak ditakdirkan, maka tidak akan terjadi.

Kata-kata itu, berisi keyakinan, bahwa Tuhan yang Maha Segalanya, tahu mana yang terbaik bagi hambanya.

Akhirnya aku belajar tentang sebuah proses yang tidak mudah, yang disebut penerimaan. Aku belajar untuk ikhlas menerima semua ketetapan Tuhanku, sepahit apa pun itu. Aku belajar untuk tidak berandai-andai dan membayangkan jika hal sebaliknya yang terjadi. Aku adalah hamba tuhanku, yang harus berusaha sebaik mungkin untuk hidup dan matiku, dan meyakini bahwa tuhanku sangat mencintaiku dan menakdirkan yang terbaik untukku.

Featured

Jangan Ungkapkan Cintamu !

Seorang kawan curhat sama saya. Katanya ada teman SMA-nya yang mendekati dan menyatakan cinta. Kawan saya galau. Ternyata benih-benih cinta masa SMA itu masih ada, dan setelah pendekatan sekian lama rasanya benih-benih itu akan tumbuh menjadi bunga cinta yang mekar. Padahal kami sedang dalam masa transisi, dari anak sekolahan menjadi anak kuliahan, dari remaja pecicilan menjadi wanita yang anggun. Dia ingin memperbaiki diri, tapi cobaan perasaan itu justru hadir.

Kawan saya yang lain punya cerita berbeda. Menurutnya, ada seorang kakak tingkat yang sering memperhatikannya. Setiap kali berpapasan, si kakak akan tersenyum menawan dan menatapnya cukup lama yang diartikan berbeda oleh kawan saya tadi. Selain itu, postingan mereka di facebook sering mirip. Saya sudah mengingatkan, belum tentu artinya naksir. Tapi temen saya malah ngeyel, soalnya hal ini terlalu sering terjadi. Ah, emang dasar kawan saya aja yang kege’eran.

Eh, gak tau lah. Wallahu a’lam.

Ngomong-ngomong saya baru sadar kalau selama ini sering dijadikan tempat curhat masalah percintaan. Padahal saya pacaran aja gak pernah, mana punya saya pengalaman tentang itu semua. Mungkin karena saya pelupa, hari ini diceritakan besok udah gak ingat kecuali diungkit. Hehe

Dari dua kasus teman saya tadi dan aneka cerita lainnya, saya menyimpulkan ternyata cinta itu sesuatu yang berbahaya. Cinta itu sejenis penyakit yang kalau tidak ditangani dengan benar bisa menyerang organ lain terutama akal sehat dan konsentrasi. Gak percaya ?

Berikut ini akan saya jabarkan pengamatan saya tentang apa yang terjadi pada orang yang sedang kasmaran.

Saat kita naksir, kagum, suka, simpati sama lawan jenis, yang kita lakukan di tahap awal adalah stalking akun medsosnya. Kalau foto profilnya berupa quote hadits dan sejenisnya, pasti komentar kita, “Ya Allah, ternyata dia alim banget.” Kalo dia hobi nge-share artikel dari situs islam, yang ada “Subhanallah, wawasan islamnya luas, pinter banget sih kakak.” Kalau dia nge-share berita politik, tanggapan kita, “Peka banget sih sama keadaan umat, keren !” Semua hal tentang dia jadi sesuatu yang istimewa di mata kita. Padahal, biasa aja tuh.

Kedua, kita bakal sering memikirkannya di mana saja dan kapan saja, bahkan ketika shalat ! Aduh, sedih banget saya. Begitu hebatkah efek cinta itu ?

Sadarkah kau kawan, pesonamu itu sungguhlah kuat. Kau bisa menarik hati lawan jenismu, membuatnya jatuh cinta, dan memikirkanmu setiap hari. Tapi tahukah kau, bahwa hal itu sangat mengganggunya ? Tahukah kau tidurnya tidak nyenyak ? Tahukah kau hatinya tidak tenang ? Tahukah kau shalatnya tidak khusyu ? Itu semua karena kau bermain-main dalam pikirannya.

Cinta memang membahagiakan, tapi di sisi lain meresahkan. Bahkan Allah berfirman dalam QS. Al Isra’ ayat 32 yang artinya,

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya (zina) itu merupakan perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”

Jangan sampai perasaan itu tergerak menjadi perbuatan, jangan sampai kesucian cinta rusak dengan flirting dan segala upaya pendekatanmu yang menggalaukan itu.

Lalu apa yang harus dilakukan saat tertarik dengan dia ?

Nih, saya punya tips yang bisa dipraktekkan khusus buat teman-teman yang galau karena naksir orang tapi belum bisa nikah. Anggap aja bagian dari terapi penyembuhan, in syaa Allah manjur.

Pertama, jangan keseringan lihat dia. Tundukkan pandanganmu, kawan. Jika hati adalah rumah, maka mata adalah pintunya. Rasulullah mengingatkan dalam sebuah hadits,

Pandangan mata adalah panah beracun di antara panah-panah iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada-Ku maka akan Aku ganti dengan keimanan yang dirasakan manis dalam hatinya.” (HR. Hakim)

Dalam hadits lain, beliau bersabda,

“Wahai Ali, jangan kamu ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya, karena yang pertama itu boleh (dimaafkan) sedangkan yang berikutnya tidak.” (HR. Tirmidzi)

Jaga mata di sini dalam arti secara virtual maupun real. Jangan sampai saat berpapasan di jalan nundukin pandangan, tapi begitu nyampe kosan malah buka profil facebook-nya. Itu mah sama aja bohong ! -_-

Oiya, Bapak pernah menasihati adik saya, “Kalo ngeliatin cewek jangan kelamaan, nanti naksir lho !” Hehehe

Kedua, jangan mendekatinya. Pokoknya jangan melakukan pendekatan dalam bentuk apa pun. Gak boleh ! Interaksi antar lawan jenis itu seperlunya aja, kawan. Gak usah lebay. Urusan kelar, percakapan selesai. Begitu pun pas nge-chat di medsos. Aduh, jangan kebanyakan emot ! Apalagi emot wajah. Nanti bisa salah paham. Secukupnya aja. Kalo perlu chat-nya datar cuma huruf aja isinya.

Ketiga, curhat sama Allah. Ingat, Allah itu ada. Katakan padaNya apa yang kau rasakan sebebas-bebasnya. Allah memahamimu lebih dari dirimu sendiri. Bilang sama Allah, jujur aja padaNya. Allah itu dekat. Contohnya gini.

Ya Allah, hambaMu ini naksir dia. Tapi hamba galau. Sekarang baru tingkat satu, kan masih lama boleh nikahnya. Hamba gak kuat ya Allah. Hamba sering banget mikirin dia. Ampuni hamba, shalat hamba jadi gak khusyu. Ya Rabb, hamba takut perasaan ini menjerumuskan hamba, nanti ibadah hamba jadi berantakan. Oleh sebab itu, hamba titipkan perasaan ini padaMu. Berilah ketenangan pada hati dan pikiran hamba. Bantu hamba untuk melupakannya ya Allah, karena belum waktunya hamba memikirkan dia. Jaga dia ya Allah. Beri kemudahan dalam setiap urusannya, mudahkan langkahnya menuju kebaikan, dan jadikan ia termasuk golongan orang-orang yang Kau rahmati. Aamiin.”

Ah, itu yang terbaik untuk anak manusia yang jatuh cinta namun belum sanggup menikah. Perbanyak kegiatan positif, berkumpul sama teman-teman, dan meningkatkan ibadah bisa menjadi solusi. Rasulullah bersabda,

Wahai sekalian para pemuda, barang siapa di antara kalian telah mampu untuk menikah maka hendaknya ia menikah, karena menikah dapat lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barang siapa yang belum mampu menikah maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah penjaga baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sabar ya kawan-kawan. Mencintai dalam diam itu memang tidak mudah. Tapi itu jauh lebih baik dari perbuatan mendekati zina seperti pendekatan, pacaran dan sebagainya. Bahkan sekuat apa pun kita menjaga diri, belum tentu kita bebas dari zina. Rasulullah bersabda,

Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan menyentuh. Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan atau berangan-angan. Lalu, kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Saya nemu puisi bagus terkait mencintai dalam diam.

Karena aku mencintaimu, aku ingin menjagamu

Karena aku mencintaimu, aku tak ingin terlalu dekat denganmu

Karena aku mencintaimu, aku tak ingin menyakitimu

Karena cintaku padamu

Tak akan kubiarkan cermin hatimu menjadi buram

Tak akan kubiarkan telaga jiwamu menjadi keruh

Tak akan kubiarkan perisai qolbumu menjadi retak, bahkan pecah

Karena cinta ini

Ku tak ingin mengusik ketentraman batinmu

Ku tak ingin mempesonamu

Ku tak ingin membuatmu simpati dan kagum

Atau pun menaruh harap padaku.

Maka biarlah…

Aku bersikap tegas padamu

Biarlah aku seolah acuh tak memperhatikanmu

Biarkan aku bersikap dingin

Tidak mengapa kau tidak menyukai aku,

Bahkan membenciku sekali pun, tidak masalah bagiku….

Semua itu karena aku mencintaimu

Demi keselamatanmu

Demi kemuliaanmu.

Hwaaaa so sweet T,T

Tetap semangat ya. Cobaan perasaan itu wajar kok. Lagian belum tentu si dia yang bikin galau sekarang adalah jodohmu kan ? Yuk makin aktif berkontribusi buat banyak orang, yuk makin giat belajar, yuk terus meningkatkan kualitas diri. Ingat janji Allah dalam QS. An Nuur ayat 26,

Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)….”

 

Udah, cukup galaunya ! Mari mendewasa dengan indah.