Terkenal di Langit (2) : Kisah Uwais Al Qarni

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Haaaai semua. Gimana kabarnya ? Semoga selalu ingat Allah di mana pun berada. Alhamdulillah saya sehat, baru kelar UTS, dan lagi mikir dari manakah saya mulai menulis skripsi ? Sebenarnya rasa malas itu ada saat kita ‘memulai’. Pas udah dikerjain, masa iya gak selesai. Hehe. Jadi kesimpulannya, jangan malas untuk memulai.

Dari kemarin saya kepikiran buat menceritakan kisah ini. Sebuah kisah yang patut kita pahami dari sosok yang terlihat kecil di mata manusia, namun besar di mata Allah. Dialah Uwais Al Qarni, sosok yang saat saya ngetik namanya aja bikin saya merinding. Orang yang rendah hati, namun merupakan tabiin terbaik menurut Rasulullah.

Begini kisahnya.

Uwais Al Qarni adalah pemuda yang hidup di negeri Yaman. Ayahnya sudah meninggal dan ia hidup berdua dengan ibunya yang sudah tua dan lumpuh. Ia sangat taat beribadah dan berbakti kepada ibu. Semua permintaan ibunya berusaha dipenuhi, termasuk saat beliau meminta untuk naik haji.

Uwais galau. Untuk bisa pergi haji butuh bekal dan kendaraan, sedangkan ia hanya pemuda yatim yang miskin. Mereka tidak punya unta. Uwais mikir keras, gimana nih cara mengabulkan permintaan sang ibu.

Akhirnya, ia punya ide brilian. Uwais bikin kandang buat anak lembunya di puncak bukit. Untuk ngasih makan dan mengembalikan ke kandang, Uwais menggendong lembunya naik ke atas bukit. Hal itu dilakukan selama delapan bulan. Makin hari lembu Uwais makin gembul dan badan Uwais makin kuat dan berotot. Ini bagus nih dipraktekin buat para cowok yang mau punya otot bak binaraga. hehe

Tujuannya apa sih Uwais gendong lembu kayak gitu ?

Badan Uwais jadi kekar. Pada musim haji, ia sanggup menggendong ibunya untuk perjalanan jauh. Iyes, Uwais menggendong ibunya dari Yaman ke Mekkah buat naik haji. MasyaAllah.


yamanUntuk perbandingan, jarak Jakarta-Denpasar 1115 km. Kalo jalan kaki, lama perjalanannya 226 jam, kira-kira sepuluh hari. Belum istirahat, shalat, makan, dan lain-lain. Jauh juga.

Uwais baik banget, gendong ibunya thawaf keliling Ka’bah. Ngebayanginnya aja saya terharu. T,T

“Ya Allah, ampunilah dosa ibu,” Uwais berdoa.

Terus ibunya bilang, “Bagaimana dengan dosamu?”

Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku ke surga.”

Ya, Rabbi.

T,T

Karena baktinya pada ibu, Allah memberinya karunia berupa kesembuhan Uwais dari penyakit kulit. Tinggal tersisa bulatan putih sebesar satu dirham.

Allah memang pembuat rencana terbaik. Ada hikmah dibalik bekas penyakit kulit yang belum hilang itu.

Pada suatu masa, Rasulullah berpesan,”Nanti akan datang seseorang bernama Uwais bin ‘Amir bersama serombongan pasukan dari Yaman. Ia berasal dari Murad kemudian dari Qarn. Ia memiliki penyakit kulit kemudian sembuh darinya kecuali bagian satu dirham. Ia punya seorang ibu dan sangat berbakti padanya. Seandainya ia mau bersumpah pada Allah, maka akan diperkenankan yang ia pinta. Jika engkau mampu agar ia meminta pada Allah supaya engkau diampuni, mintalah padanya.”

Nah, sabda Rasulullah ini didengar oleh sahabat Umar bin Khattab. Karena takdir Allah, akhirnya Umar ketemulah sama Uwais. Ceritanya gini.

Dari Usair bin Jabir, ia berkata, Umar bin Al Khattab ketika didatangi oleh serombongan pasukan dari Yaman, ia bertanya, “Apakah di tengah-tengah kalian ada yang bernama Uwais bin ‘Amir?” Sampai Umar mendatangi Uwais dan bertanya, “Benar engkau adalah Uwais bin ‘Amir?” Uwais menjawab, “Iya, benar.” Umar bertanya lagi, “Benar engkau dari Murod, dari Qarn?” Uwais menjawab, “Iya.”

Umar bertanya lagi, “Benar engkau dahulu memiliki penyakit kulit lantas sembuh kecuali sebesar satu dirham?”

Uwais menjawab, “Iya.” Nah, bekas penyakit itu biar Umar bisa mengenali Uwais 🙂 MasyaAllah.

Umar bertanya lagi, “Benar engkau punya seorang ibu?”

Uwais menjawab, “Iya.”

Terus Umar cerita soal pesan Rasulullah. Umar bilang, “Mintalah Allah mengampuniku.”

Kemudian Uwais mendoakan Umar dengan meminta ampunan pada Allah.

Umar nanya lagi sama Uwais, “Engkau hendak ke mana?” Uwais bilang, “Ke Kufah”.

Umar bilang ke Uwais, “Bagaimana jika aku menulis surat kepada penanggung jawab di negeri Kufah supaya membantumu?”

Uwais menjawab, “Aku lebih suka menjadi orang yang lemah (miskin).”

Maksud Uwais, dia lebih suka hidup biasa-biasa aja, gak terkenal, gak dipandang manusia.

Duh rendah hati banget kan teman-teman ? :’)

Tahun berikutnya, ada seseorang dari kalangan terhormat dari mereka, maksudnya pasukan dari Yaman tadi, pergi berhaji dan ia bertemu Umar. Umar nanya soal Uwais. Orang yang terhormat itu bilang, “Aku tinggalkan Uwais dalam keadaan rumahnya miskin dan barang-barangnya sedikit.”

Umar cerita soal pesan Rasulullah ke orang itu. Akhirnya, orang itu dateng ke Uwais.

“Mintalah ampunan pada Allah untukku,” katanya.

Uwais jawab, “Bukankah engkau baru saja pulang dari safar yang baik (yaitu haji), mintalah ampunan pada Allah untukku.”

Orang itu bilang lagi sama Uwais, “Bukankah engkau telah bertemu Umar.”

Uwais berkata, “Iya benar.” Uwais lalu memintakan ampunan Allah untuknya.

MasyaAllah.

Begitu ceritanya.

Allah Maha Baik. Kita masih bisa tau kisah ini untuk diambil pelajaran. Bahwa semakin kita bertaqwa dan mendekat pada Allah, kita semakin rendah hati, semakin baik akhlak kita. Uwais gak mau terkenal. Cukup Allah aja yang tau gimana aslinya dia.

Lagian kalo jadi orang terkenal, makin sulit menjaga hatinya. Penyakit hati seperti ujub dan sombong bisa aja menghinggapi. Manusia itu menilai apa yang tampak di mata, dengan mudahnya kita membandingkan, menilai seseorang begitu saja. Padahal kita gak pernah jadi kakinya untuk tau apa aja yang sudah dilakukan dan dialami sama orang lain. Alangkah lebih indah, jika suudzon itu dikurangi. Yuk selalu berprasangka baik, apalagi sama saudara seiman.

Kita juga belajar, berbakti pada orang tua, terutama ibu merupakan salah satu ibadah yang utama. Saya pernah denger seseorang bilang ke saya, pas ibunya meninggal, itu rasanya kayak kehilangan separuh jiwa.

Buat teman-teman yang ibunya masih ada, jangan lupa berbakti. Bagi yang ibunya sudah tenang di sisi Allah, teruslah mendoakan. Doa anak shalih akan terus mengalir untuk ibu kita 🙂

Doakan saya juga ya, biar lancar skripsinya. Semangat terus 😀

 

 
Sumber :

https://www.islampos.com/kisah-uwais-al-qarni-yang-menggendong-ibunya-naik-haji-33383/

https://rumaysho.com/10538-kisah-uwais-al-qarni-dan-baktinya-pada-orang-tua.html

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s