Tentang Milea

Ah, kenapa baru kutulis sekarang ya Gusti. Di saat kebaperan soal Dilan sudah reda dan netizen yang galak sudah sebel setengah mati lantaran Milea lagi jalan sama Kang Adi(pati), saya masih aja ngebahas ini. Ya udah lah, ya, udah kadung janji. Musti ditepati dooooong 😀

Btw, ternyata benar apa kata kak Fadel, skripsi membuat seolah dunia ini berpusat padanya. Skripsi membuat saya memikirkannya di mana pun, melupakan pikiran soal hal penting-gak-penting lainnya, misalnya jodoh. Ah, udahlah itu entar aja. Kata ibuk saya, nanti juga dateng sendiri.

Setelah rada kesel sama Dilan di buku dua, akhirnya saya bisa ngerti alasan dari semua perbuatan Dilan yang saya katain nakal gak ketulungan itu. Ternyata emang beda sih ya, anak laki dan anak perempuan pola pikirnya.

Dilan, akhirnya saya memahamimu, Nak.

Contohnya gini, pas Dilan ketangkep polisi dan semua drama nakal dia lainnya itu, setelah saya pikir-pikir, itu semua disebabkan karena Dilan itu anaknya setia kawan. Setia kawan. Dia merasa harus membela temannya, harus bersama temannya, dan karena emang dia mainnya sama anak geng motor dan statusnya sebagai panglima tempur, ya dia harus selalu gabung dong sama mereka. Masa iya sih, kalo temen kita lagi ngapain, kita gak ikutan? Nah Dilan itu begitu.

Masih menurut Dilan di buku tiga ini, geng motornya itu gak jahat loh. Mereka bakal nyerang, kalo diserang duluan. Sisanya ? Ya seperti pertemanan lainnya, ngumpul di warung kopi, terus konvoi di jalan pake motor. Kan jaman dulu belom ada internet, belom ada kafe, jadi ya mainnya sederhana begitu. Yang penting ngumpul sama temen.

Nah, Milea, selaku gadis remaja baik-baik di tahun 90’an, gak mau dong pacar tercintanya itu terluka. Apalagi si Akew meninggal, makin panik lah dia. Wanita jaman dulu kebanyakan emang sukanya yang aman-aman saja. Begitulah budaya masyarakat membesarkan manusia Indonesia dari generasi ke generasi sampai akhirnya budaya itu mulai luntur seiring kemajuan jaman dan teknologi. Milea itu maunya Dilan ga usah ikutan geng motor lagi, ga usah nyerang-nyerang lagi. Nah, Dilan kan ga bisa begitu. Milea, mungkin sekarang dirimu sudah sadar, Nak, kalo kita sayang sama orang, selain sayang sama keluarganya, kita juga harus menerima lingkungan sosialnya.

Puncaknya, Dilan dan Milea putus.

Inget gak sih apa yang Dilan pernah bilang sama Milea dan booming di mana-mana itu.

Milea, jangan bilang ada yang menyakitimu, nanti orang itu akan hilang.

Nah, si Dilan ini merasa dia udah buat Milea gak nyaman, dan yah tersakiti. Jadi dia memutuskan menghilang dari hidup Milea 😦

Masa nih, ya, waktu Milea dateng dan bilang mau putus dari Dilan, Dilannya malah mencoba nenangin dan nganterin Milea pulang. Apalagi mereka berantemnya lumayan heboh sih di buku tiga. Dilan masih bisa aja gitu stay cool dan dengan macho-nya nganterin cewek yang dia sayang pulang dengan selamat, padahal baru diputusin wkwk

Selanjutnya, Bunda, ibunya Dilan akhirnya tau kabar putusnya mereka. Si Milea itu sebenernya gak serius waktu mutusin Dilan, cuma pengen gertak doang. Nah si Dilannya udah kadung sedih dan patah hati kan. Pas Bunda mempertemukan mereka berdua, Dilan gamau balikan.

Dilan akhirnya ke Yogyakarta, mengunjungi teman ayahnya. Dia naik kereta ditemani satu orang temennya. Terus pas di kereta, kata Dilan, dia kangen. Dilan kangen Milea. So sad. Gatau ya, aku baper di buku tiga tuh pas bagian ini. Perjalanan emang bikin kita ingat hal-hal apa saja, bahkan yang kadang gak terlintas di benak, atau malah sesuatu yang gamau kita ingat. Ya masalahnya kan kita gak ngapa-ngapain selama naik kereta itu, cuma menatap pemandangan di luar jendela dengan kereta yang terus melaju. Makanya pikiran kita ke mana-mana. Dilan kangen Milea. Dan kangen alias rindu itu, seperti kata Dilan sendiri, emang berat. Gak bisa bersama dengan orang yang kita sayang itu menyakitkan. Mau ketemu tapi gak bisa itu juga sedih. Hiks.

Buku tiga juga menambahkan apa yang tak diceritakan di buku dua. Kan ada tuh bagian di buku dua yang menceritakan Milea udah punya pacar baru yang bernama Mas Herdi. Nah ternyata, Dilan dan Milea akhirnya bisa saling berhubungan setelahnya. Saling bertukar kabar, termasuk mengkonfirmasi kesalahpahaman masing-masing. Misalnya, waktu Milea mengira Dilan punya pacar baru waktu ayah Dilan meninggal, atau waktu Dilan mengira Milea udah punya pacar baru yang nganterin dia pergi les tiap sore. Saya rasa, kalau saja Dilan tau itu bukan pacar Milea, mungkin mereka bisa balikan. Tapi yang udah lewat, mana bisa terulang? Dilan dan Milea juga saling bilang kalau mereka kangen masing-masing. Terbukti ya, mantan terindah itu ada.

Tapi, waktu itu kondisinya mereka udah pada punya pacar sendiri-sendiri sih. Nama pacar Dilan bagus deh, Anchika Mehrunisa Rabu. Itu kayaknya cuma bikin-bikinan Pidi Baiq doang hehe.

Akhirnya saya bisa legowo, menerima kalau Dilan-Milea memang gak berjodoh. Setidaknya mereka akhirnya bisa saling melepaskan baik-baik, tanpa ada kesalahpahaman. Semoga bisa dipetik pelajaran dari kisah ini. Semoga Dilan dan Milea asli bahagia dengan keluarga masing-masing, penuh cinta dan harmonis. Aamiin.

 

 

PS. Btw, Dilan dan Milea secara umur kayaknya lebih pas jadi orang tua saya deh. Maafkan daku yang dari tadi ga sopan manggil nama doang, Pak Dilan, Bu Milea 🙂

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s