Tentang Mengabadi

Salah satu sifat Allah adalah kekal. Tidak ada lagi yang bersifat seperti itu di seluruh jagat raya. Semua makhluk akan mati. Bumi yang indah dengan pantai dan mataharinya akan diganti dengan Bumi yang lain. Bahkan gunung yang tegak dan kokoh, akan beterbangan bagai kapas. Langit yang selama ini menaungi kita akan runtuh. Tidak ada yang abadi di dunia ini, begitu Allah menjelaskan di banyak surat tentang kiamat.

Saya pernah ditanya gini di ask.fm. How would you like to be remembered ? Saya lupa ini pertanyaan mesin atau pertanyaan anonim. Terus saya jawab gini. Sebagai penulis. Jadi tulisannya abadi selamanyaaa.

Hehe

Padahal nulis buku satu aja belom.

Abraham Maslow (1943) dengan teori hierarki kebutuhannya yang terkenal itu bilang, urutan keempat dari kebutuhan manusia adalah penghargaan, dilanjutkan dengan kebutuhan aktualisasi diri di urutan kelima. Saya masih belum bisa menyimpulkan keinginan ingin dikenang itu masuk kategori yang mana. Yang pasti, salah satu kemauan orang yang masih hidup adalah terus diingat oleh orang-orang setelah ia meninggal.

Ah, manusia.

Mungkin kita perlu diingatkan lagi bahwa salah satu sifat alami manusia adalah mudah melupakan.

Saat kita meninggal, mungkin keluarga, teman, kerabat, dan orang-orang yang mengenal kita akan sedih. Namun itu tak lama. Bisa jadi sebulan setelahnya hidup sudah kembali seperti semula. Kesedihan itu akan hilang perlahan, seiring makin banyaknya urusan. Pelan-pelan, kita akan dilupakan.

Mungkin sekali dua kita masih dibicarakan. Keluarga sebagai orang terdekat akan mengenang kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan. Sahabat kita ? Bisa jadi sama. Lalu teman kita yang lain, orang-orang yang tidak terlalu akrab, mungkin sudah lupa. Mereka hanya ingat, kita sudah tiada.

Begitulah dunia ini berjalan.

Jadi, apakah ada keabadian bagi manusia ?

Kata Rasulullah, saat manusia meninggal, semua amalannya terputus kecuali 3 hal, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang selalu mendoakannya. Contoh sedekah jariyah adalah membangun masjid, menggali sumur, dan mewakafkan sesuatu seperti tanah atau gedung untuk kepentingan orang banyak. Ilmu yang bermanfaat, misalnya kita ngajarin suatu ilmu ke orang lain, atau nulis buku, yang masih terus digunakan dan dipelajari setelah kita meninggal. Dan anak shalih dapat menjadi sebab bagi orang tuanya untuk mendapat pahala yang tidak terputus.

Indah banget kan ajaran Rasulullah. Kita dapat mengabadi, dengan memberi manfaat bagi orang lain. Kebaikan itu akan mengalir meski kita sudah mati. Manusia akan lupa dengan apa yang kita lakukan, tapi catatan Allah tak kenal kadaluarsa. Catatan kebaikan kita akan awet, sampai hari perhitungan tiba.

Kesimpulannya, banyak-banyaklah beramal shalih, terutama 3 hal tadi.

Semoga sehat terus, kawanku ♥

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s