Lebaran 2018 (1439H)

Lebaran ini adalah kali kedua saya pulang dalam empat tahun terakhir. Begitu banyak yang saya rasakan, sampai saya bingung dari mana harus mulai bercerita.

Saya senang bisa pulang, melihat rumah saya. Saya terheran melihat kota kelahiran saya sudah banyak berubah. Ada beberapa hotel baru dibangun. Ada reklamasi teluk. Ada cafe-cafe baru, membuat gaya hidup kaum muda jadi suka nongkrong di cafe, mengurangi kebiasaan lama saling mengunjungi rumah. Ada banyak ikan raksasa seharga seratus ribu per ekornya di pasar ikan. Ada semakin banyak lembaga dakwah dan kajian, bahkan yang menurut saya dulu rasanya sulit menyentuh kota saya. Teman-teman saya—yang hampir semuanya perempuan, dan masih tinggal di kota kami, tidak belajar di kota lain—menjadi semakin syar’i. Beberapa ada yang menutup cantiknya. Saya iri. Saya masih begini-begini saja.

Rasanya saya sudah jauh tertinggal.

Saya kira dengan belajar di kota lain, saya bisa lebih berkembang. Ternyata kota saya juga jauh melesat ketika saya pergi. Saking jarangnya pulang, saya tidak paham kabar kota sendiri. Kota saya sudah berbeda, tak sama seperti dulu, ketika saya di sini.

Kota ini memang surga. Semua fasilitas untuk menyejahterakan dan membahagiakan penduduknya tersedia. Di sini nyaris tak ada orang miskin, kecuali mereka yang malas berusaha. Betapa baiknya Tuhan atas kota ini. Kami dijaga, diberi rizki, dimudahkan urusannya, dihindarkan dari kemacetan. Setelah beberapa tahun hidup di kota besar, saya merasa kota saya cantik sekali. Ke mana-mana lancar, jalanan longgar, udaranya segar, airnya bersih, tidak ada yang kurang. Bagaimana saya tidak bersyukur?

Yang tak berubah, kamar saya masih menjadi tempat yang paling nyaman. Tempat saya memikirkan banyak hal, termasuk mengetik ini. Tempat saya istirahat, dari kecil sampai sekarang.

Tapi yang pasti, saya juga rindu kota tempat saya belajar. Saya ingin kembali duduk di perpustakaan sekolah sampai sore dan menyelesaikan tugas akhir seperti biasanya. Saya rindu membaca buku tebal untuk referensi kajian pustaka. Saya harus semangat, saya ingin segera lulus sekolah.

Saya juga mau lihat teman saya. Saya pernah berpikir, bagaimana jika seandainya teman saya datang berkunjung ke rumah ketika lebaran. Atau saat tak lebaran juga tak papa, yang penting main ke rumah. Saya mau lihat teman saya. Tahun lalu teman saya masih bilang selamat hari raya ke saya, tahun ini tidak. Saya mau dikirimi ucapan selamat hari raya sama teman saya, biar saya senang.

Kemarin saya berkunjung ke rumah beberapa guru saya. Ada yang berhasil didatangi, ada yang tidak. Saya sedikit kecewa tidak bertemu guru saya. Saya rindu. Saya mau dengar guru-guru saya bicara. Entah mengapa setiap kata yang keluar mengandung nasihat. Enak sekali terdengar di telinga. Seorang guru adalah paket lengkap, pengetahuan dan akhlak yang baik. Itu yang dibutuhkan untuk menjadi manusia berbudi.

Begitulah cerita lebaran saya.

Oiya, rumah kami menyediakan bakso, wedang jahe, tape ketan, dan jenang madumongso ketika lebaran. Semuanya dibuat sendiri. Kalau ada yang lain berarti beli. Jika mau nyicip, datanglah ke rumah kami.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s