Butamtik dan Aku

Ini cerita tentang seseorang yang tak kutahu namanya siapa. Kenapa ? Kau mau protes ? Terserah aku lah mau cerita tentang siapa. Sudah, jangan marah padaku. Nanti aku tak mau cerita lho.

Aduh, kenapa aku malah marah-marah begini sih?

Jadi begini. Aku pertama kali bertemu dia, saat kami hendak mencegat angkot. Kami sama-sama baru pulang. Hari itu, aku memakai baju panjang berwarna hitam, kerudung biru tua, dan menenteng tas berwarna coklat. Kenapa? Tidak berkesinambungan ya bajuku? Ah, biarlah. Waktu itu aku sedang malas memilih baju. Repot pikirku, karena sudah lelah baru pulang dari kampus. Eh tapi sandalku berwarna coklat ding. Masih nyambung kan, dengan tasku.

Orang yang mau kuceritakan ini, hmm baiklah kita beri dia julukan. Siapa ya ? Bagaimana kalo Butamtik ? Itu singkatan dari abu-hitam-batik whahaha. Saat aku pertama kali bertemu dia, dia pakai bawahan warna abu-abu, dan atasan batik hitam. Dia pakai ransel warna abu-abu dan sepatu hitam. Kenapa ? Tak berkesinambungan ya? Biarlah. Terserah dia.

Lalu, apa yang kami lakukan ? Yaaaa mencegat angkotlah. Kami harus segera pulang.

Jadi angkot warna biru itu mulai mendekati kami. Karena posisi berdirinya lebih dekat dengan arah datangnya angkot, Butamtik naik duluan, lalu aku. Bagimu yang tak pernah naik angkot di Jakarta, kuberitahu ya. Posisi duduk di angkot itu saling berhadap-hadapan di bangku panjang. Akhirnya aku duduk di belakang sopir. Butamtik duduk di bangku yang berseberangan denganku. Lalu angkot mulai berjalan ke arah rumahku.

Lalu apa ?

Ya sudah begitu saja ahahaha.

Selama di angkot aku sekilas mengamatinya. Sepertinya orang kantoran. Bajunya rapi. Lalu aku menatap ke luar lagi. Melihat kendaraan di sepanjang jalan raya. Aku merasa, Butamtik juga terkadang melihat ke arahku. Ku tatap dia. Dan dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Hal itu terjadi beberapa kali.

“Kiri, Pak,” Butamtik berseru pada sopir angkot. Wah, ternyata dia yang turun lebih dahulu. Aku diam, bersikap setenang mungkin. Padahal aku cukup kaget. Kau tau kenapa? Karena Butamtik berhenti dua gang sebelum gang rumahku. Ya ampun, ternyata kami bertetangga? Astaga, kok aku belum pernah lihat ya?

Ah, aku tak ingin pusing. Kita harus melihat sisi positif dari hal ini. Alhamdulillah, sekarang aku tau, bahwa dia tetanggaku, yang tinggalnya tak jauh dari rumahku. Sudah, itu cukup.

Butamtik turun dari angkot. Dia membayar lewat pintu depan. Lalu menerima kembalian, dan dimasukkan ke dalam tas. Butamtik melihat ke arahku sekali lagi. Kebetulan aku juga sedang melihatnya yang tengah repot sendiri menutup resleting tas. Akhirnya angkot berjalan lagi. Meninggalkan Butamtik sendiri.

Aku kemudian turun di gang rumahku dengan rasa penasaran yang tak jua hilang. Siapa dia? Wajahnya itu, hmm sepertinya familiar. Sepertinya aku sudah pernah melihatnya, tapi aku lupa di mana.

Pertemuan pertamaku dengan Butamtik, seperti itu adanya. Kenapa ? Kau sebal karena tak ada yang spesial ? Kau kesal karena aku tak berani menyapa duluan seperti biasanya? Waktu itu kan posisinya kami adalah dua orang yang sama-sama asing, yang kebetulan naik angkot yang sama. Sudah itu saja.

Aaaaahh. Sudahlah.

Yang jadi motivasiku kenapa mau cerita soal Butamtik padamu, adalah karena takdir tuhan. Jadi begini, sebagai mahasiswa tingkat akhir yang selalu mengerjakan skripsi setiap hari, aku selalu pulang dari perpustakaan jam 5 sore. Aku kemudian menyeberang jalan raya, lalu lewat gang besar untuk membeli makan malam. Aku tidak tahu hari itu ada apa, yang jelas, aku, tanpa direncanakan, tiba-tiba melihat seseorang dengan bawahan hitam dan jaket abu-abu, di gang besar yang kulewati.

Itu Butamtik.

Wakwaw.

Aku lumayan terkejut. Tapi wanita dewasa sepertiku harus pandai menyembunyikan perasaan dan menutupi ekspresi yang tak perlu. Hmm, aku terus berjalan, tetap setenang mungkin. Padahal badanku rasanya pegal semua setelah seharian berusaha menyelesaikan skripsi. Butamtik berjalan di depanku. Aku perlahan menyusul dari belakang. Eh, tanpa kuduga, dia berbalik, berjalan ke arahku, lalu menghilang ke dalam gang yang lebih kecil.

Aku bingung. Tapi tetap tak peduli. Pikiran-pikiran penasaran memenuhi kepalaku. Ah, sudahlah.  Aku lapar. Aku mau beli makan.

Kau masih penasaran, siapa Butamtik itu ? Sama aku juga. Mari kita lanjutkan.

Pertemuan ketigaku dengan Butamtik, kembali terjadi karena takdir tuhan. Iya, semua hal yang terjadi di hidupku adalah karena ketetapan tuhanku. Waktu itu, aku baru pulang dari gladi bersih untuk upacara wisudaku. Alhamdulillah, akhirnya aku lulus sidang skripsi. Senang sekali rasanya bisa lulus sekolah. Setelah dari kampus, aku mampir ke studio foto, bilang pada bapak keturunan China yang menjaga meja kasir bahwa aku mau foto dua hari lagi, selepas upacara wisuda. Lalu aku beli martabak telur, lalu beli lauk di warteg, untuk makan malam. Padahal tanganku sudah kerepotan membawa boneka wisuda kenang-kenangan dari teman sekelas. Tahukah kau, baru berjalan beberapa langkah meninggalkan warteg, aku melihat sosok yang tak asing.

Itu Butamtik.

Dia berpapasan denganku. Aku masih bisa melihat senyumnya waktu itu, sembari tanganku yang repot membawa boneka dan makanan. Kami berpapasan, lalu meneruskan langkah berlawanan arah. Mungkin dia tersenyum karena melihatku kerepotan. Yang pasti, aku tak menyangka akan bertemu dengannya lagi. Dia masih memakai jaket dan ransel abu, serta bawahan hitam. Ya ampun, memangnya dia tak punya jaket lain ?

Aku berpikir, mungkinkah Butamtik akan terus menjadi misteri bagiku? Kami sudah tiga kali bertemu dan aku tak juga tau siapa dia.

Akhirnya, setelah lulus kuliah, aku mulai bekerja. Seperti penduduk Jakarta yang lain, yang super rajin, yang selalu berangkat kerja pagi-pagi benar, seperti itulah kehidupanku dalam beberapa minggu terakhir. Aku selalu naik bus kota ke tempat kerja dan berangkat sebelum pukul 06.30. Biasanya pukul 06.30 aku sudah berada di halte bus.  Dan kebiasaan baru inilah yang mempertemukan aku dengan Butamtik kembali.

Aku ingat benar hari itu. Hari di mana aku bertemu Butamtik, setelah sekian lama, tepatnya 26 hari tidak bertemu dengannya. Ya ampun, aku bahkan melihat kalender dan menghitung harinya. Tidak, aku hanya iseng saja. Aku suka keakuratan. Itu sesuatu yang penting.

Hari itu hari Selasa, tanggal 2 Oktober 2018, pukul 06.30 pagi. Berhubung tanggal itu adalah hari batik nasional, kantorku meminta seluruh karyawan berpakaian batik. Pagi itu aku berangkat bersama Nala, teman sekantorku. Kebetulan kami berpapasan di jalan menuju halte bus. Aku dan Nala sedang menunggu bus, sayangnya bus-bus yang datang penuh semua, sehingga kami tak diizinkan masuk. Setelah 10 menit menunggu bus, dari arah pintu masuk halte, datanglah seseorang dengan ransel, jaket, serta bawahan berwarna abu-abu.

Ya ampun, itu Butamtik.

Astaga.

Astaga.

Ini aku tak salah lihat kan ?

Butamtik sedikit berbincang dengan beberapa orang di depanku, nampaknya menanyakan kenapa busnya tak jua tiba. Aku masih mengamatinya. Lalu, tanpa sengaja tatapan kami bertemu. Aku sengaja tak mengalihkan pandanganku. Aku melihatnya. Dia melihatku. Dan, dia tersenyum padaku.

Aku serius. Astaga, aku bahkan masih ingat senyuman itu.

Bus selanjutnya tiba. Masih penuh juga. Butamtik dan beberapa orang lain mencoba masuk dan berhasil. Terlalu penuh. Aku dan Nala memutuskan naik bus berikutnya. Hari itu, kami terlambat 5 menit.

Siangnya, di kantor, aku shalat Dzuhur di masjid. Selesai shalat, aku hendak kembali ke ruangan bersama teman-temanku. Langit Jakarta cerah meski tak biru. Musim hujan memang belum kunjung menyapa kami. Ah, aku benar-benar rindu hujan, gerimis, dan perasaan kedinginan yang membuatku ingin meringkuk lebih lama di balik selimut. Aku rindu menyentuh dinding kamarku yang dingin karena hujan di luar rumah. Hujan menawarkan keromantisan dengan segala inspirasinya. Apakah aku sedang butuh inspirasi ? Bisa jadi. Aku harus menulis sesuatu, tapi tak kunjung kumulai.

Aku memakai sepatu, melangkah meninggalkan masjid. Kau tau kawan, tanpa sadar, aku menoleh ke kiri. Aku melihat seseorang dengan bawahan abu, atasan batik berwarna hitam, sedang memasuki masjid.

Itu Butamtik.

Aku terkejut. Sempat terbengong sekian detik, lalu bersembunyi di balik tembok saking kagetnya. Ya ampun, manusia misterius itu, manusia yang membuatku penasaran, ternyata dia, ternyata dia, satu kantor denganku.

Keajaiban apa ini ?

Tuhanku, sesungguhnya engkaulah yang mengetahui segalanya di langit dan di bumi.

Aku mengabari temanku via chat, aku bercerita pada Marissa, teman satu ruanganku, karena sungguh, aku tak bisa menahan hal besar ini sendirian. Ya ampun, Butamtik ternyata satu kantor denganku. Di gedung mana sih dia ? Aku bahkan tak pernah berpapasan saat hendak ke ruangan.

Dua hari kemudian, hari Kamis, ternyata aku dan Butamtik bertemu lagi. Pukul 06.30 pagi, di halte bus. Ya ampun, takdir ini benar-benar misteri. Aku mulai menaiki tangga menuju halte bus. Saat itu aku melihatnya. Seseorang dengan bawahan, jaket dan ransel berwarna abu-abu. Lengkap dengan kacamata dan senyumnya yang baru kusadari ternyata lumayan manis itu.

Itu Butamtik.

Astaga.

Aku kaget, refleks menyentuh dadaku, berusaha menenangkan diri. Ya ampun, wanita dewasa sepertiku harus tau bagaimana caranya bersikap. Aku terus berjalan dengan jantung tak karuan. Aku berpikir, Butamtik pasti berjalan di belakangku. Aduh, aku harus bagaimana ini?

Aku tak berani menoleh ke belakang. Sungguh, aku tak berani beradu pandang dengannya.

Dan beberapa detik kemudian aku kesal karena kecemasanku tak berdasar.

Manusia itu, Butamtik, sudah melenggang santai memasuki halte bus dengan cara menyebrang jalan, melintasi jalur bus, lalu masuk ke dalam halte dengan melompati tangga pendek, yang seharusnya tak boleh dilakukan. Aku tak suka melihatnya. Akhirnya dia punya satu kekurangan yang berarti di mataku. Tidak menaati peraturan. Bukan ciri warga negara yang baik.

Hari itu aku memakai rok coklat kunyit, blus hijau pastel, dan kerudung hijau tua. Aku memeluk ransel oranye kebanggaanku. Hari itu, halte penuh. Bus terlambat datang. Dari percakapan orang-orang, ternyata bus mengalami kecelakaan di suatu jalur. Hal itu menyebabkan gangguan pada rentetan bus-bus di belakangnya. Aku dan ketiga temanku akhirnya memutuskan untuk memesan kendaraan online. Beberapa teman yang lain juga melakukan hal yang sama. Butamtik ? Tentu saja dia juga melakukannya. Dia keluar halte, sambil mataku terus mengikutinya.

Manusia itu, Butamtik, hendak lompat pagar lagi.

Dia sudah membuat ancang-ancang, mengamati sekelilingnya, hingga mata kami bertemu.

Kami saling menatap. Aku memperhatikannya tanpa ekspresi. Kami lihat-lihatan sekitar satu menit.

Akhirnya, dia menurunkan tangan dan kakinya, urung melompati pagar halte. Ia berbalik, berjalan memunggungiku yang masih menatapnya. Butamtik terus melangkah, menyusuri jalur masuk halte yang lumayan panjang, dan keluar lewat pintu yang benar. Ia tak jadi melakukan pelanggaran. Keputusan bagus, anak muda.

Aku tertawa, menyadari betapa lucunya kejadian itu. Kami bagai melakoni drama pantomim, tanpa kata, hanya lewat mata. Butamtik tak jadi melompat, karena malu ketahuan sedang kuamati. Astaga, takdir macam apa ini ? Bagaimana bisa hal itu terjadi pada dua orang yang tak saling kenal seperti kami ?

Hari Senin, aku kembali menunggu bus di halte yang sama, pukul 06.30. Kuamati kerumunan pekerja yang sedang sibuk sendiri itu. Kulihat satu per satu wajahnya. Dan, aku tak menemukan Butamtik di sana. Ke mana dia ? Kenapa ia tak datang? Terlambat bangunkah? Atau malu bertemu denganku lagi ? Ya ampun, siapalah aku ini.

Hari ini, lima hari setelah pertemuanku dengan Butamtik, aku masih tak juga tau siapa dia. Sejauh ini, aku cuma tahu, dia selalu memakai jaket dan ransel berwarna abu-abu, tiba di halte pukul 06.30 pagi, naik bus, dan satu kantor denganku. Eh tunggu, benarkah dia satu kantor denganku? Aku tak pernah bertemu dia lagi sih, setelah terakhir kali melihatnya di masjid kantor waktu itu. Jangan-jangan dia hanya tamu yang kebetulan sedang mengunjungi kantor kami. Eh tapi, dia naik bus yang searah denganku kok. Aduh, kenapa aku penasaran begini sih?

Hmm hmm hmm

Hhhmmmmmmm

Bagaimana menurutmu?

 

 

 

4 Replies to “Butamtik dan Aku”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s