Perempuan Paling Cantik

Hari itu, saya, perempuan paling pecicilan di dunia, didapuk menjadi moderator di suatu acara kajian muslimah. Aneh betul, pikir saya. Biasanya saya gak bisa diam dan jauh dari kata feminin. Perempuan yang kelewat mandiri sampai orang tua khawatir soal masa depan saya, wkwk. Tapi ya sudahlah. Sudah mengiyakan, mau apa lagi. Biarlah hari itu saya tampil manis layaknya ukhti-ukhti. Jadi pahamilah wahai manusia di luar sana, ukhti-ukhti yang nampaknya anggun kalem menghanyutkan juga punya sisi lain yang tak terduga. Ingat, jangan menilai orang dari bajunya. Dan lagi, jangan lupa bahwa perempuan adalah makhluk paling misterius di dunia.

Pembicara yang saya dampingi adalah seorang daiyah sekaligus ibu dari 3 anak. Saya menyambutnya begitu sampai di lokasi acara. Perempuan itu, mungkin pembicara paling sederhana yang pernah saya temui. Beliau memakai gamis dan kerudung dengan warna senada, dan tanpa make up. Beliau naik kereta dari rumahnya. Lihat, bahkan tidak meminta dijemput sama panitia, padahal rumahnya masih di area Jabodetabek.

Demi mengakrabkan diri biar ga canggung di atas panggung, saya menemani beliau hingga tiba waktunya kami naik panggung. Perempuan itu, masyaAllah, hanya ketenangan yang saya dapatkan ketika berada di sisinya. Saya bahkan tak perlu berusaha mencari bahan obrolan. Saya tidak merasa canggung atau pun sungkan karena baru kenal dengan beliau. Semuanya mengalir begitu saja. Rasanya mudah sekali.

Lalu, tibalah sesi kajian.

Pernah ga sih kalian melihat orang yang begitu passionate sama apa yang dia kerjakan? Misalnya pelukis, penulis, pengrajin tembikar yang tekun sekali. Itu yang saya lihat kemarin. Beliau sangat hmm…. apa ya, menikmati waktunya sebagai pembicara di acara itu. Dan perasaan itu menular pada siapa pun yang mendengar isi tausyiahnya. Para peserta juga sangat antusias. Menyenangkan sekali.

Hari itu, saya, perempuan yang masih hijau, merasa sangat beruntung karena dipertemukan dengan perempuan yang sudah banyak pengalaman dalam hidup. Memang benar, dari yang lebih tua kita belajar. Saya juga sedikit tersentil untuk mengubah pandangan saya tentang definisi cantik.

Mulanya, saya merasa perempuan cantik adalah yang wajahnya menarik. Namun Tuhan tidak memberi paras cantik pada setiap perempuan. Ada yang dinilai biasa saja oleh manusia lainnya. Itulah yang menyebabkan kecantikan bersifat subjektif. Namun ternyata ada cantik yang lain. Cantik yang menenangkan, yang mendamaikan jiwa. Cantik yang tak terlihat dari lahiriah saja. Cantik hati, cantik akhlak, cantik pribadinya, ditambah pemahaman agama yang baik.

Perempuan itu, adalah perempuan paling cantik yang pernah saya temui.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s