Suemi

Ini cerita tentang seorang perempuan. Namanya memang cuma beda satu huruf dengan peran yang biasanya dijalankan laki-laki, tapi itulah istimewanya. Ia anak pertama dalam keluarga, menjadikannya tempat berkeluh kesah dan bercerita oleh adik-adiknya. Semua masalah dalam keluarga ia tau, karena ia sering diajak cerita oleh ibunya, atau ayahnya, untuk dimintai pendapat. Aku mengenalnya sepanjang umurku, meski ia jauh lebih tua dari ibuku. Kupanggil ia, Bude Mi.

Bude Mi adalah kakak sulung ibuku. Usianya sudah kepala enam. Punya satu anak laki-laki, yang umurnya hampir mencapai kepala empat. Ia pernah bekerja menjadi staf tata usaha di sebuah sekolah menengah. Namun, beberapa tahun lalu ia berhenti. Bukan maunya, bukan keinginannya. Mengapa pula wanita di umur itu harus berhenti bekerja? Tidak ada anak-anak yang harus diurus dan hal-hal yang membuatnya harus berdiam di rumah. Keputusan keluarga besarlah penyebabnya. Setelah musyawarah panjang, Bude Mi akhirnya berhenti dari pekerjaannya, karena satu tujuan mulia. Merawat kakekku, ayahnya, ayah ibuku.

Kakekku sudah tua. Lebih dari 80 tahun umurnya. Kini beliau hanya mampu berbaring di ranjang. Bude Mi yang merawatnya, memandikan, memakaikan baju, menyelimuti, menyuapi, memberi minum, mengajak ngobrol, memijat, setiap hari. Hal itu dilakukan sambil mengerjakan pekerjaan rumah.

Rumah itu, kadang sepi, kadang ramai. Ramai akan terasa jika adik-adik Bude Mi, datang berkunjung bersama anak-anaknya. Aku salah satu anak itu. Semasa kuliah, setahun sekali, saat libur semester, aku ke Jawa Timur untuk menengok kakekku. Saat itulah aku bertemu Bude Mi. Lalu Bude akan bercerita banyak padaku. Tentang keluarga kami, tetangga, masa lalu, kondisi terkini kakek, dan perasaannya selama ini. Saat itulah aku merasa begitu dekat dengannya, karena bisa cerita, dari hati ke hati.

Di mataku, ia wanita yang baik. Ya sebagai anak, sebagai ibu, sebagai bibi untuk kami keponakannya. Ia baik. Selama di rumah itu, alhamdulillah aku tak pernah kekurangan makan. Makanan selalu ada, dari makan berat, buah, sampai camilan. Rumah juga selalu rapi, dan dalam kondisi bersih. Kakek juga terawat dengan baik. Kamar kakek tidak pernah bau. Di kamar itu malah tersedia parfum untuk kakek.

Bude Mi juga selalu baik pada semua keponakannya. Seperti kebanyakan ibu-ibu, Bude Mi memang cerewet. Tapi itu dilakukan karena ia sayang pada kami. Bagiku, Bude Mi seperti tak kenal lelah. Ia juga jarang mengeluh. Meski aku tau, tak mudah menjalani perannya.

Aku menghormatinya, karena baktinya pada orang tua. Aku menyayanginya, karena semua kebaikannya.

Minggu lalu aku baru pulang dari mengunjungi kakek. Ini kedua kalinya aku ke sana dalam jangka hampir lima bulan aku bekerja. Aku tak lagi diberi sangu, seperti dulu saat aku masih sekolah. Di kereta yang membawaku kembali ke Jakarta, aku sadar. Bude Mi sangat baik. Orang baik akan terasa pancaran jiwanya. Kita semua bisa merasa, dengan hati kita masing-masing.

Entah kapan lagi aku bisa menemuinya. Semoga Bude terus sehat. Kata Bude Mi, ia jarang sakit. Menurutnya, itu manfaat merawat kakek.

Sampai ketemu lagi, Bude ❤

Iklan

2 Replies to “Suemi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s