Selepas Kau Pergi

Ada lelaki yang kukenal. Begitu sulit ia jatuh cinta. Padahal umurnya sudah lanjut. Kata kami, sudah waktunya ia menikah. Sudah terlalu matang. Namun ia belum jua terlihat menjatuhkan hati pada satu wanita, selepas sang kekasih pergi.

Kekasihnya? Bolehkah kusebut begitu?

Kekasihnya adalah wanita single satu-satunya yang mengisi dunia kami saat itu. Mungkin rasa itu sudah ada di hati sang Lelaki sejak pertama mereka bertemu. Namun ia tak juga mengungkap rasa, hingga tibalah berita itu. Sang Kekasih mengumumkan pada semuanya, bahwa ia akan menikah.

Ya, wanita itu kekasih sepihak di hati sang Lelaki. Baginya sang Kekasih adalah wanita satu-satunya. Cinta tak berbalas tetaplah cinta. Siapa tahu dalamnya hati seseorang?

Aku mencoba berempati pada Lelaki ini. Aku mencoba turut merasakan kesedihannya. Seandainya aku jadi dia, yang ditinggal menikah oleh pujaanku, sepedih apa rasanya. Aku pernah bertanya padanya, pernahkah ia menjalin cinta? Tak pernah, jawabnya. Ia dekat dengan semua orang, tapi kalau menyukai seseorang, ya satu saja.

Akhirnya, wanita itu pergi menuju suaminya, keluarganya. Sesuatu yang memang sudah lama ia impikan, dekat dengan keluarga dan suami. Menurutku, ia telah melakukan hal yang tepat. Namun hidup ini dinamis, tak semua orang senang dengan keputusan kita. Aku melihat saat-saat sang Lelaki begitu mendung, di hari-hari terakhir sebelum sang Kekasih pergi. Begitu juga saat kulihat potretnya tatkala mengantar sang Kekasih di bandara. Astaga, wajah itu, pedih sekali 😦

Aku sebagai pengamat dalam kisah ini, juga turut merasa miris. Cerita ini klasik, sama saja dengan kisah cinta yang sudah pernah kau dengar di mana-mana. Aku iba pada sang Lelaki, namun turut berbahagia untuk wanita itu. Ya beginilah hidup. Tak selamanya manis.

Apakah sang wanita tahu perasaan sang Lelaki ?

Ia menyadarinya. Ia tahu. Tingkahmu akan beda pada orang yang kau cinta. Namun ia mengabaikannya, memilih setia pada pernikahannya.

Hari terus berganti. Sekian bulan berlalu. Hingga kini, di setiap pertemuan-pertemuan kami, sang Lelaki masih menyebut-nyebut wanitanya. Aku tahu, masih ada cinta di hatinya. Namun, ia bisa apa. Tak ada yang dapat ia lakukan selain berusaha memendamnya dalam hati dan melanjutkan hidup.

Begitulah kawan, hidup harus terus berjalan.

Diterbitkan oleh ratnasahda_

Sahda Ratnasari The explorer. Pegawai kantoran wkwk. Senang bermimpi dan mewujudkannya. Selalu siap berpetualang, menjelajah tempat-tempat baru dan menyerap energi positif dari sana. Doakan, semoga tetap konsisten mengisi blog ini. Email : ratnasahda07@gmail.com

2 tanggapan untuk “Selepas Kau Pergi

  1. wanita itu belum rezekinya hehehe. Sebenarnya aku mau bilang… salah sendiri gak diungkapin dulu. Eh tapi terus kepikiran, kalau memang gak berjodoh, misalpun udah diungkapin ya pasti ada aja rintangan yang akan memisahkan mereka pada akhirnya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: